Bencana tanah longsor menerjang kawasan Pelaga Eco Park Glamping Retreat di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu malam, 1 November 2026. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah bangunan penginapan rusak dan dua wisatawan dilaporkan hilang.

Hujan deras yang mengguyur kawasan Pelaga sejak Minggu sore diduga menjadi pemicu bencana. Longsor terjadi sekitar pukul 23.00 WITA ketika material tanah dan aliran air deras menerjang kawasan penginapan yang berada di dekat sungai.

Dua Wisatawan Dilaporkan Hilang

Berdasarkan informasi sementara, terdapat 23 tamu yang menginap di kawasan Pelaga Eco Park ketika bencana terjadi. Sebanyak 21 orang berhasil selamat, sementara dua wisatawan lainnya masih dalam pencarian.

Kedua korban yang dilaporkan hilang terdiri dari seorang warga negara Indonesia dan seorang warga negara asing. Salah satu korban diketahui bernama Bangkit Mubarok, sedangkan identitas wisatawan asing tersebut masih belum diketahui secara pasti.

Longsor menyebabkan beberapa bangunan glamping mengalami kerusakan parah. Salah satu unit penginapan dilaporkan hanyut terbawa material longsor dan arus sungai. Bangunan lainnya juga mengalami kerusakan akibat longsor susulan.

Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian

Tim SAR gabungan terus melakukan upaya pencarian terhadap kedua wisatawan yang hilang. Operasi melibatkan Basarnas Bali, BPBD, TNI, Polri, serta sejumlah instansi terkait.

Pencarian dilakukan dengan menyisir kawasan longsor, aliran sungai, dan sejumlah titik yang berpotensi menjadi lokasi korban. Petugas juga melakukan pembersihan material tanah untuk mempermudah proses pencarian.

Namun, kondisi medan yang curam, akses jalan yang sempit, serta potensi longsor susulan menjadi tantangan bagi tim di lapangan. Faktor keselamatan personel tetap menjadi perhatian utama selama proses pencarian berlangsung.

Pemerintah daerah turut memantau perkembangan penanganan bencana. Koordinasi dilakukan untuk memastikan proses pencarian berjalan optimal sekaligus membantu para tamu yang berhasil dievakuasi.

Cuaca Ekstrem Menjadi Perhatian di Bali

Peristiwa longsor di Pelaga menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem di Bali. Hujan dengan intensitas tinggi berpotensi meningkatkan risiko tanah longsor, banjir, pohon tumbang, hingga kerusakan infrastruktur.

Kawasan wisata alam yang berada di dekat tebing, sungai, atau lereng memiliki risiko tersendiri ketika hujan deras berlangsung dalam waktu lama. Pengelola destinasi wisata perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan memastikan prosedur keselamatan berjalan dengan baik.

Masyarakat dan wisatawan juga diimbau untuk mengikuti informasi cuaca serta arahan petugas setempat. Apabila kondisi lingkungan menunjukkan tanda bahaya, aktivitas di kawasan rawan sebaiknya dihentikan sementara.

Keselamatan Wisatawan Menjadi Prioritas

Bencana longsor di Pelaga Eco Park menjadi perhatian serius bagi sektor pariwisata Bali. Selain penanganan korban, kejadian ini juga menjadi momentum evaluasi terhadap keamanan akomodasi wisata berbasis alam.

Pengawasan terhadap kondisi lingkungan, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu diperkuat.

Dengan meningkatnya kewaspadaan dan koordinasi berbagai pihak, diharapkan risiko bencana dapat diminimalkan. Keselamatan wisatawan, pekerja, dan masyarakat sekitar harus menjadi prioritas utama dalam pengembangan pariwisata Bali.

Leave a Reply