Membuat konten yang menarik tidak selalu berarti konten tersebut akan mendapatkan banyak komentar. Ada kalanya sebuah konten sudah mendapatkan views, tetapi interaksi dari audiens masih rendah.
Hal ini bukan selalu karena kontennya tidak menarik. Bisa jadi audiens hanya menonton, mendapatkan informasi, lalu langsung pergi tanpa merasa perlu memberikan respons.
Views Bukan Satu-Satunya Ukuran Engagement
Jumlah views menunjukkan bahwa konten berhasil mendapatkan perhatian. Namun, engagement juga berkaitan dengan bagaimana audiens merespons setelah melihat konten.
Komentar, likes, shares, saves, hingga respons melalui pesan dapat menunjukkan adanya interaksi yang lebih jauh antara audiens dan konten.
Karena itu, jika konten mendapatkan views tetapi komentarnya sedikit, bukan berarti konten tersebut gagal. Bisa jadi ada bagian dari strategi konten yang perlu dibuat lebih interaktif.
Konten yang Hanya Memberikan Informasi Bisa Membuat Audiens Pasif
Konten informatif memang penting. Namun, jika setiap konten hanya berisi informasi tanpa memberikan ruang bagi audiens untuk ikut berpikir atau berpendapat, mereka cenderung menjadi penonton pasif.
Contohnya:
“Berikut 5 tips membuat konten yang menarik.”
Informasi tersebut mungkin bermanfaat, tetapi tidak memberikan alasan yang kuat bagi audiens untuk ikut berkomentar.
Coba ubah menjadi:
“Dari 5 tips ini, mana yang paling sering kamu lakukan?”
Pertanyaan sederhana tersebut memberikan kesempatan kepada audiens untuk ikut terlibat.
Ajak Audiens Ikut Nimbrung
Salah satu cara meningkatkan interaksi adalah membuat audiens merasa bahwa pendapat mereka memang dibutuhkan.
Beberapa bentuk pertanyaan yang bisa digunakan:
- “Menurut kamu, yang mana paling penting?”
- “Pernah mengalami hal yang sama?”
- “Kalau kamu di posisi ini, pilih yang mana?”
- “Setuju atau tidak?”
- “Apa yang akan kamu tambahkan?”
- “Pernah mencoba cara ini?”
Pertanyaan seperti ini membuat komunikasi terasa lebih dua arah.
Buat Konten yang Relate
Audiens lebih mudah memberikan respons ketika mereka merasa pernah mengalami situasi yang dibahas.
Konten yang mengangkat masalah sehari-hari, pengalaman kerja, kesalahan umum, kebiasaan, atau situasi yang familiar dapat menjadi pemicu percakapan.
Misalnya, daripada hanya membahas:
“Cara membuat konten yang menarik.”
Bisa dibuat lebih spesifik:
“Konten sudah dibuat, sudah upload, tapi yang komen cuma teman sendiri?”
Topik tersebut terasa lebih dekat dengan pengalaman banyak orang sehingga lebih mudah memancing respons.
Jangan Hanya Mengejar View
Views memang menjadi salah satu indikator performa konten. Namun, tujuan konten tidak selalu berhenti pada mendapatkan tontonan.
Konten yang baik juga dapat membuat audiens berpikir, merasa terhubung, menyimpan informasi, membagikannya kepada orang lain, atau ikut masuk ke dalam percakapan.
Jadi, jika konten sudah ditonton tetapi komentarnya masih sepi, coba evaluasi kembali cara konten tersebut mengajak audiens untuk terlibat.
Karena konten yang menarik perhatian belum tentu membuat orang ikut berbicara. Konten yang melibatkan audiens memberi mereka alasan untuk tidak hanya menonton, tetapi juga ikut nimbrung.