Peringatan 120 tahun Puputan Badung diselenggarakan di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar, pada malam Minggu tanggal 20 September 2026. Acara menggabungkan prosesi seremonial dan pertunjukan seni skala besar sebagai puncak kegiatan. Laporan resmi menyebut prosesi penancapan keris oleh Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama para penglingsir puri se-Kota Denpasar dan penampilan Karya Mahabandana berjudul “Mati Tan Pumut Pejah” yang melibatkan ribuan seniman.

Rangkaian acara dan unsur utama

  1. Rangkaian acara
  • Kegiatan diawali dengan apel dan pembacaan rangkaian sejarah singkat Puputan Badung.
  • Puncak acara ditandai prosesi penancapan keris yang dipimpin oleh Wali Kota Denpasar bersama penglingsir puri se-Kota Denpasar.
  • Pertunjukan kolosal “Mati Tan Pumut Pejah” menjadi penutup formal pada malam itu.
  1. Unsur pelaksana dan peserta
  • Pemimpin upacara: I Gusti Ngurah Jaya Negara, Wali Kota Denpasar.
  • Penglingsir puri se-Kota Denpasar ikut serta dalam prosesi penancapan keris.
  • Pemerintah Kota Denpasar bertindak sebagai penyelenggara yang menghadirkan pertunjukan seni kolosal.
  • Ribuan seniman tampil dalam Karya Mahabandana, sebuah pelibatan yang menurut laporan setempat melibatkan jumlah besar peserta seni.
  1. Waktu dan lokasi
  • Tanggal peringatan: 20 September 2026.
  • Lokasi kegiatan: Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar.
  • Agenda berlangsung pada malam hari sehingga memiliki tata lampu dan pengaturan panggung untuk penampilan kolosal.

Narasi sejarah yang diangkat

Kronologi singkat peristiwa 1906

Peristiwa yang diperingati terjadi pada 20 September 1906 ketika Kerajaan Badung menghadapi ekspedisi militer dari Belanda. Dalam peristiwa itu Raja Badung memimpin perlawanan yang berujung pada gugurnya banyak pejuang. Dalam beberapa laporan historis yang beredar, angka korban sempat disebutkan sekitar 7.000 orang tewas; angka ini muncul dalam salah satu ringkasan yang beredar dan perlu dilihat sebagai salah satu klaim historiografis yang dikutip dalam konteks publik.

Interpretasi lewat seni

Pertunjukan “Mati Tan Pumut Pejah” mengangkat kembali kisah Raja dan rakyat Badung saat menghadapi tekanan kolonial. Bentuk kolosal dipilih untuk menyampaikan dimensi kolektif dari peristiwa, dengan fokus pada tokoh sejarah seperti I Gusti Ngurah Made Agung yang memimpin perlawanan pada 1906. Penampilan ini menekankan aspek naratif perjuangan yang dimaknai sebagai bagian dari akar sejarah Denpasar dan Bali.

Pernyataan tokoh dan makna peringatan

  1. Ucapan dari pejabat kota
  • Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara memimpin prosesi penancapan keris dan menyampaikan bahwa peringatan bertujuan mengenang pengorbanan para pendahulu serta mewariskan nilai kepahlawanan kepada generasi muda.
  • Wakil Wali Kota I Kadek Agus Arya Wibawa dan Sekretaris Daerah I Gusti Ngurah Eddy Mulia hadir sebagai bagian dari unsur pemerintahan yang mendukung pelaksanaan acara.
  1. Sikap penglingsir puri
  • Penglingsir Puri Denpasar yang hadir menyatakan bahwa peringatan tidak hanya mengenang peristiwa sejarah tetapi juga menjadi simbol tekad dan semangat juang masyarakat Bali. Pernyataan ini mengikat dimensi kebudayaan lokal dengan ritual seremonial yang dilakukan malam itu.

Aspek penyelenggaraan dan implikasi operasional

  1. Skala dan koordinasi
  • Penyelenggaraan melibatkan banyak pihak formal: pemerintah kota, penglingsir puri, tim kesenian dan ribuan pelaku seni. Skala seperti ini memerlukan koordinasi antarinstansi pemerintahan dan pengelola lapangan untuk pengaturan panggung, tata suara, keamanan, serta manajemen penonton. Catatan: rincian teknis operasional spesifik tidak disebutkan secara eksplisit dalam laporan acara dan perlu dikonfirmasi dengan pihak penyelenggara bila diperlukan.
  1. Keterlibatan tenaga seni
  • Keterangan resmi menyebutkan keterlibatan “ribuan seniman”. Skema rekrutmen, latihan, dan penanggungjawab artistik tidak diuraikan secara rinci; hal ini menjadi aspek yang layak ditanyakan lebih lanjut kepada pihak terkait jika membutuhkan detail produksi.
  1. Nilai edukatif dan dokumentasi
  • Peringatan termasuk pembacaan sejarah singkat, yang berfungsi sebagai pengantar konteks sebelum pementasan. Dokumentasi acara dipandang penting untuk arsip kota dan bahan edukasi, meskipun format dan mekanisme arsip tidak dirinci dalam paparan acara.

Refleksi akhir

Peringatan 120 tahun Puputan Badung yang digelar pada 20 September 2026 di Denpasar mempertemukan bentuk seremonial dan ekspresi kesenian kolosal untuk membingkai kembali peristiwa 20 September 1906 dalam ruang publik kota. Penancapan keris oleh Wali Kota bersama penglingsir puri dan penampilan “Mati Tan Pumut Pejah” menjadi tanda penguatan narasi sejarah lokal dalam format acara resmi. Keterlibatan ribuan seniman menunjukkan skala pertunjukan yang besar, sementara penyebutan angka korban dari sumber-sumber historis hadir sebagai salah satu referensi naratif yang kerap dikutip saat membahas peristiwa ini.

Leave a Reply