Ogoh-ogoh tidak hanya menjadi simbol perayaan menjelang Nyepi. Karya ini juga menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk merawat cerita dan nilai budaya.
Salah satu karya yang lahir dari semangat tersebut adalah Tutulak Wingin. Ogoh-ogoh ini mengangkat tafsir tentang ingatan, perjalanan, dan naungan.
Karya ini digagas oleh pemuda-pemudi banjar melalui Sekaa Teruna ST. Sanjaya Putra. Mereka mencoba menyelami kembali cerita lama yang hidup di masyarakat.
Cerita tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk visual. Hasilnya adalah karya ogoh-ogoh yang memiliki makna simbolik.
Makna di Balik Tutulak Wingin
Tutulak Wingin merupakan karya yang berangkat dari interpretasi cerita lama. Cerita tersebut hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Karya ini tidak dimaksudkan sebagai penggambaran sejarah secara literal. Tutulak Wingin lebih menekankan pada simbol dan tafsir artistik.
Melalui pendekatan ini, ogoh-ogoh menjadi media refleksi budaya. Generasi muda dapat memaknai kembali nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur.
Proses Kreatif Pemuda Banjar
Pembuatan ogoh-ogoh ini melibatkan kerja kolektif pemuda dan pemudi banjar. Prosesnya berlangsung melalui diskusi, perencanaan, dan pengerjaan bersama.
Setiap tahap dilakukan dengan penuh semangat kebersamaan. Tawa, lelah, dan berbagai ide muncul selama proses tersebut.
Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka. Bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga memperkuat hubungan antar anggota.
Peran Sekaa Teruna ST. Sanjaya Putra
Sekaa Teruna ST. Sanjaya Putra menjadi penggerak utama dalam lahirnya karya ini. Para anggota bekerja sama dari tahap konsep hingga penyelesaian.
Kegiatan ini menjadi sarana belajar bagi generasi muda. Mereka belajar tentang tanggung jawab budaya dan kerja sama dalam komunitas.
Tradisi ogoh-ogoh juga menjadi ruang regenerasi. Melalui kegiatan ini, nilai budaya tetap hidup di lingkungan banjar.
Dukungan dari Masyarakat Banjar
Karya Tutulak Wingin tidak lahir dari satu pihak saja. Banyak pihak turut memberikan dukungan selama proses pembuatan.
Pemuda dan pemudi banjar terlibat secara langsung dalam pengerjaan. Para orang tua juga memberikan dukungan dan arahan.
Bantuan hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang membantu tenaga, waktu, ide, hingga doa.
Semua dukungan tersebut membuat karya ini dapat berdiri dengan baik.
Momentum untuk Belajar dan Bersatu
Bagi ST. Sanjaya Putra, karya ini bukan hanya tentang hasil akhir. Tutulak Wingin menjadi bagian dari proses belajar bersama.
Melalui proses ini, para pemuda belajar untuk saling mendukung. Mereka juga belajar menghadapi tantangan dalam menyelesaikan karya.
Karya ini mungkin belum sempurna. Namun proses yang dilalui menjadi pengalaman yang sangat berharga.
Persiapan Menuju Pengrupukan
Perjalanan karya ini belum berakhir. Setelah tahap ini, para anggota akan melanjutkan persiapan lainnya.
Mereka akan mempersiapkan fragmen tari dan tetabuhan. Selain itu, berbagai perlengkapan pendukung juga akan disiapkan.
Semua persiapan tersebut dilakukan untuk menyambut malam Pengrupukan.
Narasi Artistik dalam Tutulak Wingin
Narasi dalam karya Tutulak Wingin disusun sebagai tafsir simbolik. Cerita yang digunakan berasal dari kisah yang hidup di masyarakat.
Narasi ini bukan kutipan babad secara utuh. Cerita tersebut juga tidak dimaksudkan sebagai pernyataan sejarah yang literal.
Pendekatan ini digunakan sebagai bahasa visual. Tujuannya adalah memaknai nilai leluhur, kebersamaan banjar, dan semangat regenerasi.
Semua proses tetap dilakukan dengan rasa hormat kepada tradisi dan para tetua.
Menyambut Pengrupukan 18 Maret 2026
Setelah melalui berbagai proses, karya Tutulak Wingin akan hadir dalam rangkaian Pengrupukan.
Momen ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat karya tersebut secara langsung. Bagi para pemuda, ini adalah langkah penting dalam perjalanan mereka.
Pengrupukan pada 18 Maret 2026 akan menjadi babak berikutnya dari perjalanan karya ini.