Makna ogoh-ogoh Kesiman tahun 2026 mencapai level filosofis yang sangat dalam lewat karya ST. Jaya Santhi. Banjar Abian Tubuh mengangkat judul “Roga Sangkara Gumi” sebagai refleksi kondisi jagat saat ini. Memahami Makna ogoh-ogoh Kesiman ini penting untuk melihat bagaimana bencana dan wabah dinetralisir melalui simbol seni rupa Bali yang sangat sakral.
Simbolisme Roga Sangkara Gumi
Judul ini merujuk pada fenomena ketidakseimbangan alam yang memicu penderitaan di muka bumi. Secara teologis, Roga Sangkara adalah manifestasi energi negatif yang muncul akibat perilaku manusia yang merusak harmoni alam semesta. ST. Jaya Santhi memvisualisasikan kengerian wabah tersebut dalam wujud karakter yang sangat intimidatif dan juga sangat detail. Selanjutnya, penggunaan material ramah lingkungan menjadi bukti kesadaran pemuda Kesiman terhadap kelestarian lingkungan hidup saat ini.
Pembersihan Jagat Melalui Seni
Setiap guratan anatomi pada patung ini memiliki pesan moral tentang hukum sebab-akibat atau Karma Phala. Karya ini bukan sekadar tontonan, melainkan media untuk menetralisir energi buruk sebelum hari suci Nyepi Caka 1948. Kemudian, para yowana Banjar Abian Tubuh menyusun narasi ini agar masyarakat kembali sadar akan pentingnya menjaga mikrokosmos dan makrokosmos. Oleh karena itu, kehadiran figur raksasa ini menjadi simbol harapan akan pulihnya kesehatan bumi dari segala bentuk penyakit.
Dedikasi ST. Jaya Santhi Kesiman
Proses pengerjaan dilakukan secara kolektif dengan semangat gotong royong yang sangat kental di lingkungan Banjar Abian Tubuh. Teknik pewarnaan dan pahatan yang digunakan menunjukkan kematangan artistik para seniman muda Kesiman dalam mengeksekusi tema yang berat. Selain itu, sinkronisasi antara konsep sastra dan visualisasi fisik membuat karya ini memiliki nyawa atau roh yang sangat kuat. Akhirnya, “Roga Sangkara Gumi” berdiri sebagai pengingat abadi bahwa manusia harus selalu tunduk pada keagungan hukum alam semesta.