Filosofi Bibi Rangda Bali merupakan sebuah konsep seni kreatif yang mengangkat fenomena pergeseran makna simbol religius di tengah arus modernisasi. Secara mendalam, karya ini lahir dari pemikiran tentang “Rare Angon” yang melambangkan imajinasi liar manusia yang harus diarahkan oleh rambu-rambu pengetahuan. Selain itu, ogoh-ogoh ini menyoroti penggunaan kidung suci yang seringkali kehilangan roh kemagisannya akibat kurangnya pemahaman masyarakat akan fungsi aslinya.
Akar Literasi dalam Filosofi Bibi Rangda Bali
Karya ini merujuk pada literatur suci seperti Kekawin Niti Sastra yang menyatakan bahwa perkembangan zaman harus tetap diikuti tanpa meninggalkan esensi tradisi. Ketidakmengertian seseorang terhadap fungsi instrumen ritual dapat menyebabkan hilangnya nilai religiusitas dalam sebuah prosesi suci. Oleh karena itu, Filosofi Bibi Rangda Bali hadir sebagai cermin bagi masyarakat untuk kembali mendalami pustaka suci seperti Sarasamuscaya dan Tutur Rare Angon.
Selanjutnya, fenomena penggunaan tabuh tunjang Rangda pada prosesi Mejauman menjadi kritik utama yang disampaikan oleh seniman. Perubahan ini menunjukkan bahwa tanpa pengetahuan yang mumpuni, kesucian sebuah tradisi dapat terdistorsi oleh waktu. Jadi, penguatan literasi budaya sangat dibutuhkan agar inovasi seni tidak merusak pakem yang sudah ada sejak zaman leluhur.
Simbolisme Visual dan Pesan Moral
Terdapat beberapa elemen kunci yang membentuk visualisasi Filosofi Bibi Rangda Bali berdasarkan keterangan narasumber Guru Anom:
- Raksasa: Merupakan simbolisasi dari Sang Waktu atau Kala yang bergerak menelan zaman.
- Pasangan Penganten: Visualisasi dari gending Mejauman yang kesuciannya mulai mengalami pergeseran fungsi.
- Sosok Ibu-ibu: Melambangkan piranti pendukung serta aktivitas nyata dalam kehidupan sosial masyarakat.
- Aksara Suci (Ong, Ah, Ang): Simbol perpaduan amerta, air, dan api yang membentuk napas kehidupan.
Akhirnya, pesan moral dari karya ini adalah pentingnya menjaga marwah tradisi di tengah gempuran zaman. Kita harus memahami bahwa setiap kidung dan tabuh memiliki ruang serta waktunya masing-masing yang tidak boleh dicampuradukkan. Dengan memahami nilai-nilai ini, generasi muda diharapkan mampu berkreasi tanpa mencabut akar religiusitas yang menjadi jati diri manusia Bali.