STT Wredhiyasa 1948 kembali menunjukkan semangat luar biasa dalam proses ngurusang ogoh-ogoh di Denpasar. Tahapan ini menjadi bagian penting sebelum pawai ogoh-ogoh berlangsung, sekaligus simbol kesiapan sekaa teruna untuk menyambut Hari Raya Nyepi.
Apa Itu Ngurusang Ogoh-Ogoh?
Ngurusang ogoh-ogoh adalah proses pengerjaan, perawatan, hingga penyempurnaan ogoh-ogoh sebelum ditampilkan pada malam pengerupukan. Di Kota Denpasar, tradisi ini dikerjakan secara gotong royong oleh Sekaa Teruna Teruni (STT) di masing-masing banjar.
Tahapan ini mencakup:
- Penyelesaian detail wajah dan karakter
- Pewarnaan dan finishing
- Pengecekan struktur rangka
- Persiapan pengangkutan saat pawai
Bagi STT Wredhiyasa 1948, proses ini bukan sekadar teknis, tetapi juga bentuk kebersamaan dan pelestarian budaya Bali.
Siapa STT Wredhiyasa 1948?
STT Wredhiyasa 1948 merupakan salah satu Sekaa Teruna Teruni di wilayah Denpasar yang aktif dalam kegiatan adat dan budaya. Setiap tahunnya, mereka berpartisipasi dalam tradisi ogoh-ogoh yang menjadi ikon perayaan Nyepi di Bali.
Semangat generasi muda dalam menjaga nilai tradisi terlihat jelas dari dedikasi mereka dalam setiap detail pengerjaan ogoh-ogoh.
Tradisi Ogoh-Ogoh di Denpasar
Perayaan ogoh-ogoh di Denpasar selalu menjadi perhatian masyarakat karena kreativitas dan inovasi yang ditampilkan tiap banjar. Pemerintah Kota Denpasar juga rutin mengadakan lomba ogoh-ogoh untuk mendorong kualitas seni dan pelestarian budaya.
Tradisi ini berkaitan erat dengan Hari Raya Nyepi dan dilaksanakan pada malam sebelum Nyepi, yaitu saat Pengerupukan.
Nyepi sendiri merupakan hari raya umat Hindu di Indonesia yang dirayakan dengan suasana hening selama 24 jam.
Kapan Ogoh-Ogoh Diarak?
Ogoh-ogoh diarak pada malam Pengerupukan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Untuk tahun 2026, Nyepi jatuh pada tanggal 19 Maret 2026, sehingga pawai ogoh-ogoh dilaksanakan pada 18 Maret 2026.
Momen ini selalu dinanti masyarakat karena menjadi ajang kreativitas sekaligus hiburan budaya.
Makna Filosofis Ogoh-Ogoh
Secara filosofi, ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, yaitu energi negatif atau sifat buruk manusia. Melalui prosesi arak-arakan dan pembakaran, umat Hindu memaknainya sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki Tahun Baru Saka.
Semangat inilah yang juga diusung oleh STT Wredhiyasa 1948 dalam proses ngurusang ogoh-ogoh mereka.
Kesimpulan
Progres ngurusang ogoh-ogoh oleh STT Wredhiyasa 1948 menunjukkan semangat generasi muda Denpasar dalam melestarikan budaya Bali. Lebih dari sekadar karya seni, ogoh-ogoh adalah wujud gotong royong, kreativitas, dan penghormatan terhadap tradisi.
Tradisi ini bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan dalam menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai spiritual.