“Krodha Hyang Pertiwi” menjadi representasi kuat kemarahan Ibu Pertiwi terhadap berbagai ketidakseimbangan yang terjadi di dunia. Karya dari Sekaa Teruna (ST) Bhinakarya ini hadir bukan sekadar sebagai ogoh-ogoh, tetapi sebagai simbol refleksi sosial, budaya, dan spiritual menjelang Hari Raya Nyepi Caka 1948.
Melalui visual yang tegas dan ekspresi penuh energi, “Krodha Hyang Pertiwi” mengajak masyarakat untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam serta tanggung jawab menjaga harmoni kehidupan.
Apa Itu “Krodha Hyang Pertiwi”?
Secara makna, “Krodha” berarti kemarahan atau amarah suci, sedangkan “Hyang Pertiwi” merujuk pada Ibu Bumi dalam kepercayaan Hindu Bali. Konsep ini menggambarkan bentuk peringatan simbolis dari alam terhadap perilaku manusia yang merusak keseimbangan.
Dalam tradisi ogoh-ogoh, tema ini sangat relevan karena pengerupukan bukan hanya tentang arak-arakan patung raksasa, tetapi juga momen penyucian dan pelepasan energi negatif sebelum memasuki Nyepi.
Siapa ST. Bhinakarya?
ST. Bhinakarya (Bhinakarya) adalah sekaa teruna yang dikenal aktif dalam kegiatan adat dan kreatifitas pemuda di wilayahnya. Lewat karya “Krodha Hyang Pertiwi”, mereka menunjukkan bahwa generasi muda Bali tetap menjaga tradisi sambil menghadirkan pesan yang kontekstual dengan kondisi masa kini.
Karya ini menjadi bagian dari semangat yowana di wilayah Badung dan sekitarnya.
Makna “Krodha Hyang Pertiwi” dalam Tradisi Ogoh-Ogoh Bali
Tradisi ogoh-ogoh di Bali telah menjadi ikon budaya yang identik dengan Hari Raya Nyepi. Patung raksasa ini diarak sehari sebelum Nyepi saat malam pengerupukan. Tujuannya adalah sebagai simbol bhuta kala atau energi negatif yang kemudian “dilenyapkan” sebagai bagian dari proses penyucian.
“Krodha Hyang Pertiwi” menghadirkan interpretasi unik: kemarahan bukan sekadar sifat destruktif, tetapi bentuk peringatan agar manusia kembali sadar akan pentingnya menjaga alam, budaya, dan spiritualitas.
Di kawasan Badung hingga Pererenan, semangat ogoh-ogoh selalu menjadi magnet perhatian masyarakat dan wisatawan. Kreativitas pemuda dalam menciptakan karya seperti ini memperkuat posisi Bali sebagai destinasi budaya yang dinamis.
Mengapa “Krodha Hyang Pertiwi” Relevan di Caka 1948?
Caka 1948 menjadi momentum penting untuk refleksi. Dengan isu lingkungan yang semakin nyata, simbol kemarahan Ibu Pertiwi terasa semakin relevan. Ogoh-ogoh ini bukan hanya karya seni visual, tetapi juga medium komunikasi sosial.
Pesan yang dibawa:
- Kesadaran menjaga alam
- Menghormati tradisi leluhur
- Menguatkan persatuan pemuda adat
- Mengembalikan keseimbangan hidup
Penutup
“Krodha Hyang Pertiwi” bukan hanya simbol amarah, tetapi pesan cinta terhadap bumi. Lewat tangan kreatif ST. Bhinakarya, ogoh-ogoh ini menjadi pengingat bahwa menjaga alam dan budaya adalah tugas bersama.
Semangat Caka 1948 terasa semakin hidup melalui karya-karya penuh makna seperti ini. Bali kembali menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar ritual, melainkan refleksi perjalanan spiritual dan sosial masyarakatnya.