Ogoh-ogoh Yuddha Saswadana karya Br. Basangkasa saat KEJAR Keliling Banjar tahun Caka 1948

Tradisi KEJAR (Keliling Banjar) kembali digelar dengan penuh semangat budaya. Kegiatan ini menjadi momen penting dalam rangkaian penyambutan Hari Raya Nyepi, sekaligus ajang menampilkan karya terbaik generasi muda banjar.

Tahun Caka 1948, Br. Basangkasa mempersembahkan karya ogoh-ogoh bertajuk “Yuddha Saswadana” yang mencuri perhatian lewat kekuatan konsep dan visualnya.


Apa Itu KEJAR (Keliling Banjar)?

KEJAR atau Keliling Banjar adalah tradisi mengarak ogoh-ogoh mengelilingi wilayah banjar sebagai simbol pembersihan energi negatif sebelum Hari Raya Nyepi.

Tradisi ini bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga bagian dari ritual spiritual yang bermakna mendalam bagi masyarakat Bali.

Melalui KEJAR, warga menyatukan tenaga, kreativitas, dan gotong royong dalam satu harmoni budaya.


Makna “Yuddha Saswadana” dalam Caka 1948

Secara filosofi:

  • Yuddha berarti peperangan
  • Saswadana bermakna pembalasan atau konsekuensi

Tema ini merepresentasikan pertarungan antara dharma (kebenaran) dan adharma (kejahatan). Karya ini menggambarkan bahwa setiap tindakan memiliki dampak, dan keseimbangan alam akan selalu mencari jalannya.

Di tahun Caka 1948, pesan ini terasa relevan sebagai refleksi kehidupan dan kontrol diri menjelang Nyepi.


Keunggulan Karya Ogoh-Ogoh Br. Basangkasa

Beberapa elemen yang menjadi sorotan:

  • Detail anatomi karakter yang dinamis
  • Ekspresi penuh energi dan dramatis
  • Komposisi visual yang kuat dan seimbang
  • Teknik pengecatan serta ornamen yang rapi

Karya ini menunjukkan kualitas kreativitas tinggi dari tim Br. Basangkasa dalam menjaga standar seni ogoh-ogoh modern tanpa meninggalkan nilai tradisi.


Peran KEJAR dalam Pelestarian Budaya Bali

Tradisi KEJAR memiliki fungsi penting:

Menguatkan Solidaritas Pemuda Banjar

Pembuatan ogoh-ogoh dilakukan secara gotong royong, mempererat hubungan antaranggota.

Media Edukasi Filosofi

Setiap karya selalu membawa pesan moral yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Pelestarian Identitas Budaya

Ogoh-ogoh menjadi simbol eksistensi budaya Bali yang terus berkembang setiap tahun Caka.


Kesimpulan

KEJAR (Keliling Banjar) dengan karya Yuddha Saswadana Caka 1948 dari Br. Basangkasa menjadi bukti bahwa ogoh-ogoh bukan hanya karya visual, melainkan media refleksi spiritual dan budaya.

Semangat kreatif generasi muda terus menjaga tradisi agar tetap hidup, relevan, dan bermakna setiap tahunnya.

Leave a Reply