Makna Filosofis Bumi Gotra merupakan inti dari sebuah karya seni ogoh-ogoh yang digarap oleh Sekaa Teruna Dharma Asih (STDA) Mengwi. Melalui konsep “Isin Gumi”, karya ini bukan hanya sekadar pajangan estetis, melainkan sebuah teguran keras bagi kita semua. Bali memang dikenal dengan ajaran Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun, realitanya banyak manusia modern yang justru melenceng dari ajaran luhur tersebut demi mengejar kebebasan pribadi tanpa batas.

Analisis Implementasi Konsep Isin Gumi

Secara struktural, narasi ini membedah tiga pelanggaran utama terhadap pilar kehidupan masyarakat Bali. Pertama, terdapat pelanggaran Pawongan yang terlihat dari visual manusia bermulut tebal. Hal tersebut melambangkan kebiasaan buruk masyarakat yang gemar membicarakan dan merendahkan sesama manusia.

Kedua, pelanggaran Palemahan digambarkan melalui sosok manusia yang membawa kapak untuk membabat hutan serta membuang sampah sembarangan. Tindakan destruktif ini merusak keindahan berlimpah yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta. Ketiga, pelanggaran Parhyangan menonjolkan sisi spiritual yang tidak selalu bertujuan baik, bahkan terkadang memiliki niat terselubung di balik ritualnya. Oleh karena itu, penyatuan ketiga wujud ini menjadi satu raksasa besar adalah simbol dari akumulasi kesalahan manusia terhadap tatanan alam semesta.

Simbolisme Raksasa Bersayap dalam Bumi Gotra

Selain itu, Makna Filosofis Bumi Gotra diperkuat dengan adanya sayap pada sosok raksasa tersebut. Sayap ini melambangkan ambisi manusia akan kebebasan yang seringkali kebablasan. Manusia di zaman sekarang cenderung merasa memiliki hak penuh atas dunia tanpa memikirkan tanggung jawab moral yang menyertainya. Akhirnya, kebebasan yang tidak terkendali ini justru menjadi bumerang yang merusak sistem lingkungan desa adat, subak, dan tempat ibadah.

Harapan Melalui Karya STDA 1948

Selanjutnya, melalui pesan yang terkandung dalam karya ini, STDA 1948 mengajak generasi muda untuk kembali menoleh pada kearifan lokal Bali kuno. Kita harus sadar bahwa hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan adalah kunci keselamatan dunia. Karya ini mengingatkan bahwa manusia seharusnya menjadi penjaga, bukan perusak. Jadi, melalui visualisasi yang provokatif ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif untuk memperbaiki perilaku manusia yang kian menjauh dari etika spiritual. Dengan demikian, harmoni Tri Hita Karana dapat kembali tegak di tanah Bali.

Leave a Reply