Gebug Ende Desa Seraya sebagai Warisan Budaya Bali

Gebug Ende Desa Seraya merupakan tradisi perang rotan yang berasal dari Desa Seraya, wilayah Kabupaten Karangasem. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Kata gebug berarti memukul, sedangkan ende adalah perisai yang digunakan sebagai pelindung. Tradisi ini tidak sekadar pertarungan fisik, melainkan ritual sakral yang dilakukan untuk memohon hujan dan menjaga keharmonisan alam.

Sebagai salah satu tradisi unik di Bali Timur, ritual ini tetap dijaga keasliannya oleh masyarakat adat Desa Seraya.


Ritual Sakral di Pura Puseh Desa Seraya

Pelaksanaan tradisi ini berlangsung di Pura Puseh Desa Seraya yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Pura ini memiliki nilai historis serta spiritual yang tinggi bagi warga Desa Seraya.

Dalam prosesi ritual:

  • Dua peserta saling berhadapan menggunakan rotan.
  • Perisai (ende) digunakan untuk menangkis serangan.
  • Pertarungan dipimpin oleh wasit adat (saye).
  • Prosesi mengikuti aturan adat yang ketat.

Meski terlihat keras, kegiatan ini menjunjung tinggi sportivitas dan kebersamaan. Darah yang menetes dipercaya sebagai simbol pengorbanan tulus demi keseimbangan alam.


Tradisi Perang Rotan Karangasem yang Tetap Lestari

Tradisi perang rotan ini menjadi identitas budaya masyarakat Desa Seraya. Di tengah perkembangan pariwisata Bali, masyarakat tetap mempertahankan nilai sakralnya dan tidak menjadikannya sekadar tontonan.

Bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya Bali Timur lebih dalam, tradisi ini sering dikaitkan dengan destinasi budaya lain di Karangasem seperti kawasan adat Tenganan dan berbagai pura bersejarah di wilayah tersebut.

Pelestarian ritual ini menunjukkan kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga warisan leluhur. Hingga kini, tradisi tersebut tetap dilaksanakan sesuai kalender adat dan menjadi simbol keharmonisan hubungan manusia dengan alam serta Sang Pencipta.

By arik

Leave a Reply