Pantai Kuta merupakan salah satu destinasi wisata paling terkenal di Indonesia. Pantai ini dikenal dengan pasir putihnya yang luas, ombak yang cocok untuk berselancar, serta panorama matahari terbenam yang memukau. Namun dalam beberapa tahun terakhir, abrasi semakin mengikis garis pantainya dan mengurangi lebar hamparan pasir.
Fenomena abrasi Pantai Kuta Bali bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Proses ini merupakan hasil kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia yang berlangsung dalam jangka waktu lama.
Mengapa Abrasi Pantai Kuta Bali Terjadi?
Berikut adalah beberapa penyebab utama abrasi yang terjadi di kawasan ini:
1. Gelombang dan Arus Laut yang Kuat
Pantai Kuta menghadap langsung ke Samudera Hindia. Posisi geografis ini membuatnya menerima hantaman ombak besar sepanjang tahun. Saat musim angin barat, gelombang menjadi lebih tinggi dan arus balik semakin kuat, sehingga pasir terseret ke laut tanpa sempat kembali ke bibir pantai.
2. Perubahan Pola Arus Akibat Pembangunan
Pembangunan hotel, restoran, tanggul, dan infrastruktur di sepanjang pesisir memengaruhi pergerakan alami sedimen. Struktur buatan dapat menghalangi aliran pasir dari satu titik ke titik lain, menyebabkan distribusi pasir tidak merata.
3. Berkurangnya Suplai Pasir dari Hulu
Aliran sungai yang bermuara di sekitar Kuta membawa sedimen alami ke pantai. Namun, aktivitas seperti pengerukan pasir dan perubahan tata guna lahan di hulu mengurangi suplai tersebut. Akibatnya, keseimbangan alami pantai terganggu.
4. Kenaikan Muka Laut dan Perubahan Iklim
Perubahan iklim global menyebabkan kenaikan permukaan laut dan meningkatkan intensitas badai. Kondisi ini mempercepat proses erosi, terutama di pantai terbuka seperti Kuta.
5. Fenomena Musiman
Abrasi Pantai Kuta Bali biasanya mencapai puncaknya pada Desember hingga Februari. Januari sering menjadi bulan paling parah karena kombinasi gelombang tinggi, pasang maksimum, dan curah hujan lebat.
Kapan Abrasi Pantai Kuta Bali Paling Parah?
Periode musim hujan, khususnya saat angin muson barat (Desember–Maret), menjadi waktu paling rentan. Gelombang besar dari Samudera Hindia menghantam pantai secara langsung, mengikis pasir secara signifikan. Kondisi ini dapat terlihat dari berkurangnya lebar pantai dan tergerusnya bagian bibir pantai.
Abrasi Pantai Kuta Bali menjadi isu penting karena kawasan ini merupakan ikon pariwisata Bali. Upaya mitigasi seperti penambahan pasir (beach nourishment) dan pembangunan struktur pelindung pantai terus dilakukan untuk mengurangi dampak kerusakan yang lebih luas.