Tradisi Pengerupukan Sehari Sebelum Hari Raya Nyepi

Tradisi Pengerupukan Hari Raya merupakan salah satu rangkaian penting menjelang perayaan Hari Raya Nyepi di Bali. Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, tepatnya pada Tilem Kesanga dalam kalender Saka. Dalam konteks keagamaan, Pengerupukan menjadi bagian dari Tawur Kesanga yang bertujuan menyucikan alam semesta (Bhuana Agung) dan diri manusia (Bhuana Alit).

Secara spiritual, prosesi ini memiliki makna mendalam karena menjadi tahap awal sebelum memasuki hari hening total. Oleh karena itu, masyarakat Hindu Bali mempersiapkan berbagai sarana upacara dengan penuh kesungguhan. Selain itu, keterlibatan warga desa menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan dalam tradisi ini.

Apa Itu Tradisi Pengerupukan?

Pada dasarnya, Tradisi Pengerupukan adalah ritual sakral untuk mengusir bhuta kala atau energi negatif. Secara harfiah, kata “ngerupuk” berarti membuat suara gaduh. Karena itulah, masyarakat membunyikan kentongan, alat musik tradisional, serta berbagai benda lain untuk menciptakan kebisingan simbolis.

Selanjutnya, api obor atau api dari sabut kelapa dinyalakan dan diarak mengelilingi rumah serta lingkungan sekitar. Tindakan ini dipercaya mampu menetralisir kekuatan jahat yang mengganggu keseimbangan alam. Dengan demikian, lingkungan menjadi lebih suci sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.

Arak-Arakan Ogoh-Ogoh sebagai Simbol Bhuta Kala

Salah satu bagian paling dinantikan dalam Tradisi Pengerupukan Hari Raya adalah parade ogoh-ogoh. Patung raksasa ini berbentuk makhluk menyeramkan yang melambangkan sifat buruk manusia. Tidak hanya menjadi simbol bhuta kala, ogoh-ogoh juga mencerminkan kreativitas seni generasi muda Bali.

Kemudian, ogoh-ogoh diarak keliling desa pada malam hari dengan iringan gamelan dan sorak sorai warga. Setelah prosesi arak-arakan selesai, patung tersebut biasanya dibakar. Pembakaran ini melambangkan penghancuran energi negatif agar tidak lagi memengaruhi kehidupan manusia.

Tujuan dan Makna Spiritual Pengerupukan

Secara keseluruhan, Tradisi Pengerupukan Hari Raya bertujuan menciptakan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Melalui ritual ini, umat Hindu memohon agar segala unsur negatif dinetralisir sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.

Sementara itu, Nyepi dijalankan dengan Catur Brata Penyepian, yaitu amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan. Keempat pantangan tersebut dilaksanakan selama 24 jam penuh dalam suasana sunyi. Oleh sebab itu, Pengerupukan menjadi tahapan penting untuk memastikan kebersihan lahir dan batin sebelum memasuki hari perenungan.

Akhirnya, pelaksanaan Tradisi Pengerupukan Hari Raya tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga mempererat solidaritas sosial masyarakat Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi.

By arik

Leave a Reply