Bagaimana proses pembuatan ogoh-ogoh Banjar Ambengan oleh ST. Tunas Ambara di Pedungan, Denpasar Selatan? Karya ogoh-ogoh Banjar Ambengan tahun ini menjadi simbol kebangkitan seni tradisional bagi pemuda Bali. Artikel ini akan menjelaskan tahapan teknis secara mendalam dan sistematis. Selain itu, Anda akan memahami mengapa karya ST. Tunas Ambara selalu unggul.

Apa Saja Tahap Awal Pembuatan Konstruksi?

Pertama, para pemuda memulai dengan perancangan sketsa karakter yang memiliki proporsi anatomi tubuh manusia. Kemudian, mereka membangun kerangka dasar menggunakan bambu tali yang sangat fleksibel namun tetap kuat. Oleh karena itu, struktur ini mampu menahan beban berat saat proses pengarakan nanti. Selanjutnya, sambungan bambu diikat menggunakan kawat serta tali rotan agar posisi rangka tetap stabil. Akibatnya, konstruksi dasar ini menjadi fondasi utama bagi seluruh detail bentuk luar.

Mengapa ST. Tunas Ambara Menggunakan Bahan Ramah Lingkungan?

Selanjutnya, penggunaan material ramah lingkungan menjadi standar utama bagi kreativitas ST. Tunas Ambara saat ini. Mereka memilih kertas bekas dan anyaman bambu sebagai pengganti material styrofoam yang tidak terurai. Selain itu, penggunaan bahan alami ini memberikan tekstur yang lebih kasar namun terlihat sangat artistik. Meskipun membutuhkan waktu lebih lama, teknik ini sangat dihargai karena mendukung kelestarian alam Bali. Oleh sebab itu, karya mereka sering menjadi contoh bagi banjar lainnya di Denpasar.

Bagaimana Teknik Anatomi dan Pewarnaan Dilakukan?

Setelah volume terbentuk, seniman mulai mengerjakan detail otot serta ekspresi wajah yang sangat dinamis. Mereka menggunakan campuran perekat khusus agar lapisan kertas tidak mudah mengelupas saat cuaca lembap. Kemudian, proses pengecatan dilakukan dengan teknik airbrush untuk mendapatkan gradasi warna yang sangat halus. Sebagai hasilnya, karakter tokoh yang diangkat terlihat lebih hidup serta menyeramkan secara visual. Selain itu, penambahan aksesori tradisional memperkuat kesan mistis pada mahakarya tersebut.

Apa Makna Filosofis dari Karya Ini?

Secara mendalam, pembuatan ogoh-ogoh ini merupakan simbol penetralan kekuatan negatif di alam semesta. Selain itu, proses pengerjaan selama berbulan-bulan ini mempererat rasa persaudaraan antar anggota sekaa teruna. Oleh karena itu, nilai gotong royong menjadi jiwa utama dalam setiap jengkal karya seni ini. Akhirnya, seluruh usaha keras ini akan mencapai puncaknya pada malam pengerupukan di Denpasar. Maka dari itu, masyarakat sangat antusias menantikan hasil akhir dari ST. Tunas Ambara.

Leave a Reply