Monumen Kemanusiaan Legian Bali tampak depan

Monumen Kemanusiaan Legian Bali dan Sejarah Tragedi Bom Bali

Monumen Kemanusiaan Legian Bali berdiri di Jalan Legian, Kuta, Kabupaten Badung. Tugu peringatan ini dibangun untuk mengenang tragedi Bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002. Peristiwa tersebut menewaskan 202 orang dari 22 negara dan menjadi salah satu tragedi teror terbesar dalam sejarah Indonesia.

Sebagai titik nol ledakan, lokasi ini kemudian dikenal sebagai Ground Zero Monument. Sejak diresmikan pada tahun 2004, tempat ini berfungsi sebagai ruang memorial sekaligus simbol solidaritas internasional.


Sejarah dan Makna Monumen Kemanusiaan Legian Bali

Pada awalnya, kawasan ini merupakan pusat hiburan malam yang ramai dikunjungi wisatawan. Namun setelah tragedi terjadi, masyarakat Bali bersama pemerintah berinisiatif membangun monumen peringatan. Tujuannya bukan hanya untuk mengenang korban, tetapi juga untuk menyampaikan pesan damai kepada dunia.

Selain itu, nama-nama korban yang terukir di dinding monumen menjadi pengingat nyata akan dampak kekerasan. Setiap tahun pada tanggal 12 Oktober, upacara doa bersama digelar. Dalam momen tersebut, keluarga korban dan masyarakat lintas negara berkumpul untuk menghormati mereka yang telah tiada.


Arsitektur Tradisional dan Nilai Perdamaian

Dari segi desain, monumen ini mengusung arsitektur khas Bali dengan detail ukiran yang sarat makna spiritual. Ornamen tersebut melambangkan keseimbangan, harmoni, dan penghormatan terhadap kehidupan. Dengan demikian, bangunan ini tidak hanya menjadi penanda sejarah, melainkan juga simbol filosofi lokal yang menjunjung kedamaian.

Pada malam hari, pencahayaan lembut menerangi relief dan prasasti nama korban. Suasana menjadi lebih hening dan reflektif. Oleh karena itu, banyak pengunjung datang untuk berdoa, menyalakan lilin, atau sekadar merenung.

Kini, Monumen Kemanusiaan Legian Bali menjadi salah satu destinasi refleksi penting di kawasan Kuta. Tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga turis mancanegara menyempatkan diri berkunjung. Melalui keberadaannya, pesan persatuan dan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan terus digaungkan kepada generasi berikutnya.

By arik

Leave a Reply