Banjar Yang Batu Kangin, Denpasar, kembali mencuri perhatian dalam persiapan menyambut Nyepi Caka 1947. Proses pembuatan Ogoh-ogoh di banjar ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah manifestasi seni, gotong royong, dan pelestarian budaya Bali yang mendalam.
Apa Keunikan Ogoh-Ogoh Banjar Yang Batu Kangin Tahun Ini?
Ogoh-ogoh Banjar Yang Batu Kangin dikenal dengan detail anatomi yang sangat presisi dan penggunaan bahan ramah lingkungan. Pada tahun Caka 1947 (2025/2026), pemuda setempat (STT) fokus pada teknik ulatan bambu yang rumit dan penggunaan bahan-bahan organik untuk menciptakan tekstur kulit yang realistis tanpa menggunakan styrofoam.
Tahapan Proses Pembuatan Ogoh-Ogoh
Proses pembuatan mahakarya ini melalui beberapa fase krusial:
- Perancangan Konsep (Sketsa): Menentukan tokoh mitologi atau tema sosial yang akan diangkat.
- Pembuatan Konstruksi (Rangka): Menggunakan besi atau bambu sebagai tulang punggung utama agar struktur kuat dan seimbang.
- Teknik Ulatan: Menganyam bambu untuk membentuk volume tubuh (anatomi) yang proporsional.
- Pelapisan (Nampel): Menggunakan kertas bekas atau koran yang direkatkan dengan lem kanji.
- Finishing & Pewarnaan: Tahap detail wajah, aksesoris, dan pengecatan yang memberikan “nyawa” pada Ogoh-ogoh.
Mengapa Banjar Yang Batu Kangin Menjadi Barometer di Denpasar?
Terletak di pusat kota Denpasar, Banjar Yang Batu Kangin secara konsisten menunjukkan kualitas pengerjaan yang rapi. Semangat “Ngayah” para pemudanya menjadi kunci utama mengapa setiap tahun hasil karya mereka selalu dinanti oleh masyarakat luas dan para pecinta seni ogoh-ogoh.
Catatan: Caka 1947 merupakan momentum kebangkitan kreativitas pemuda Bali dalam menjaga ekosistem seni tradisional di tengah modernitas.