Bhuta Baka ogoh-ogoh menjadi salah satu karya yang mencuri perhatian menjelang Pengerupukan Nyepi Caka 1948. Mengangkat tema “Sang Penghuni Sungai”, ogoh-ogoh ini merepresentasikan sosok bhuta kala yang diyakini menjaga sekaligus menguji keseimbangan alam, khususnya wilayah perairan dan sungai.
Kehadiran Bhuta Baka tidak hanya menampilkan visual yang kuat dan berkarakter, tetapi juga membawa pesan filosofis mendalam tentang hubungan manusia dengan alam. Sungai, yang selama ini menjadi sumber kehidupan, digambarkan sebagai ruang sakral yang harus dihormati dan dijaga agar tetap seimbang.
Makna Bhuta Baka dalam Tradisi Bali
Dalam kepercayaan masyarakat Bali, bhuta kala bukan semata-mata simbol kejahatan, melainkan representasi energi alam yang liar dan perlu diseimbangkan. Bhuta Baka digambarkan sebagai penghuni sungai yang muncul ketika harmoni alam terganggu, baik oleh ulah manusia maupun perubahan lingkungan.
Melalui ogoh-ogoh ini, seniman ingin mengingatkan bahwa manusia memiliki peran penting dalam menjaga alam. Ketika sungai dirusak, keseimbangan pun terganggu, dan energi bhuta kala muncul sebagai pengingat akan konsekuensi tersebut.
Proses Kreatif dan Nilai Seni
Pembuatan Bhuta Baka ogoh-ogoh melibatkan proses kreatif yang panjang dan penuh ketelitian. Mulai dari perancangan konsep, pembentukan anatomi tubuh, hingga detail tekstur dan ekspresi wajah, semuanya dikerjakan dengan teknik seni tradisional yang dipadukan sentuhan modern.
Material yang digunakan tidak hanya menonjolkan kekuatan visual, tetapi juga mendukung gerak dan keseimbangan saat diarak pada malam Pengerupukan. Inilah yang menjadikan karya ini layak disebut sebagai mahakarya ogoh-ogoh 2026.
Bhuta Baka dan Pengerupukan Caka 1948
Pada malam Pengerupukan, Bhuta Baka ogoh-ogoh akan diarak sebagai simbol pembersihan alam semesta sebelum memasuki Hari Raya Nyepi. Arak-arakan ini menjadi momen penting untuk menetralisir energi negatif sekaligus memperkuat rasa kebersamaan masyarakat.
Bagi generasi muda, kehadiran Bhuta Baka menjadi bukti bahwa tradisi ogoh-ogoh terus berkembang tanpa kehilangan akar budaya. Kreativitas, filosofi, dan gotong royong menyatu dalam satu karya yang sarat makna.
Warisan Budaya Menuju Masa Depan
Bhuta Baka ogoh-ogoh bukan hanya tontonan sesaat, tetapi juga bagian dari warisan budaya Bali yang terus hidup. Dengan mengusung tema lingkungan dan keseimbangan alam, karya ini relevan dengan tantangan zaman sekaligus memperkuat identitas budaya Bali di mata dunia.
Menjelang Mahakarya 2026, Bhuta Baka menjadi simbol bahwa tradisi mampu beradaptasi, berbicara tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu wujud seni yang kuat.