Proses Ogoh-ogoh Banjar Paang Kelod adalah rangkaian pembuatan patung raksasa oleh pemuda (STT) di Penatih, Denpasar Timur, untuk menyambut Hari Raya Nyepi Caka 1948. Proses Ogoh-ogoh Banjar Paang Kelod ini melibatkan teknik anyaman bambu tradisional (ulatan), penggunaan bahan ramah lingkungan, dan manajemen organisasi pemuda setempat untuk menciptakan karya seni yang merepresentasikan karakter Bhuta Kala.

Detail Pelaksanaan dan Lokasi

Bagi Anda yang ingin memantau perkembangan karya seni ini, berikut adalah informasi ringkasnya:

  • Lokasi Pembuatan: Balai Banjar Paang Kelod, Penatih, Denpasar Timur.
  • Waktu Pengerjaan: Umumnya dimulai 2-3 bulan sebelum malam Pengerupukan Caka 1948.
  • Teknik Utama: Konstruksi bambu (ulatan), pelapisan kertas (tanpa styrofoam), dan teknik cat semprot manual.
  • Tujuan: Upacara Pengerupukan dan pelestarian seni budaya Bali.

Tahapan Konstruksi Ogoh-ogoh di Penatih

Memasuki tahun Caka 1948, standar kualitas karya seni di Denpasar Timur semakin meningkat. Tahapan pengerjaan di Banjar Paang Kelod terbagi menjadi beberapa fase krusial:

1. Perancangan Sketsa dan Kerangka Dasar Tahap awal dimulai dengan menentukan tema cerita. Setelah sketsa disepakati, para pemuda mulai merakit tulang punggung Ogoh-ogoh menggunakan besi atau bambu besar untuk memastikan kekuatan beban saat diarak.

2. Teknik Ulatan Bambu Tradisional Keunggulan dari Banjar Paang Kelod terletak pada kerapian ulatan. Bambu diserut tipis dan dianyam mengikuti anatomi otot manusia atau makhluk mitologi. Teknik ini memberikan volume yang presisi namun tetap ringan saat prosesi pengarakan.

3. Pelapisan dan Detail Tekstur Sejalan dengan peraturan lingkungan, penggunaan bahan organik sangat diutamakan. Kertas bekas atau koran ditempel selapis demi selapis menggunakan lem kanji hingga membentuk permukaan yang keras sebelum masuk ke tahap finishing atau pemberian ornamen pakaian dari kain dan payet.

Makna Budaya bagi Masyarakat Denpasar Timur

Kehadiran Ogoh-ogoh di Banjar Paang Kelod bukan sekadar ajang perlombaan estetika. Ini adalah simbol gotong royong yang mempererat hubungan antar generasi di Penatih. Secara spiritual, proses kreatif ini merupakan bentuk transisi dari energi negatif menjadi harmoni sebelum memasuki keheningan Hari Raya Nyepi.

Setiap detail, mulai dari ekspresi wajah yang menyeramkan hingga hiasan kepala yang megah, dirancang untuk mengingatkan manusia akan kekuatan alam semesta dan pentingnya menjaga keseimbangan antara Bhuana Alit dan Bhuana Agung.

Leave a Reply