Banjar Kepisah, Pedungan, bukan sekadar nama di peta Denpasar. Bagi pecinta seni Pengerupukan, banjar ini adalah kiblat kreativitas. Setiap tahun, karya mereka selalu berhasil mencuri perhatian lewat detail yang “ngeri” dan eksekusi yang rapi.
Apa yang membuat Ogoh-ogoh Br Kepisah Pedungan selalu tampil beda? Mari kita bedah.
1. Anatomi yang “Hidup”
Berbeda dengan garapan biasa, seniman di Banjar Kepisah sangat terobsesi dengan proporsi. Mereka tidak hanya membuat patung besar, tapi membangun karakter. Garis otot, ekspresi wajah, hingga urat nadi dibuat sedemikian rupa sehingga figur Bhuta Kala tersebut tampak seolah-olah bisa bernapas.
2. Teknik Ngulat (Anyaman) Tradisional
Di tengah gempuran teknologi, Banjar Kepisah tetap setia pada pakem ramah lingkungan.
- Tanpa Styrofoam: Konsisten menggunakan bambu dan kertas.
- Konstruksi Rumit: Kerangka dibuat dengan teknik anyaman (ngulat) yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.
- Tekstur Organik: Penggunaan bahan alam memberikan hasil akhir yang lebih artistik dan berkarakter.
3. Kekuatan Cerita (Storytelling)
Ogoh-ogoh di sini bukan cuma soal visual. Ada narasi mendalam di baliknya. Biasanya, tema yang diangkat bersumber dari sastra lama yang relevan dengan kondisi sosial masa kini. Hal inilah yang memberikan “jiwa” pada setiap goresan warna dan aksesorisnya.
Mengapa Harus Melihat Langsung?
Menonton parade Ogoh-ogoh Br Kepisah Pedungan adalah pengalaman sensorik yang lengkap. Perpaduan antara gerak dinamis patung, dentuman gamelan Balaganjur yang menggelegar, dan semangat ngarak dari pemuda setempat menciptakan atmosfer magis yang sulit ditemukan di tempat lain.