Apa makna Ogoh-Ogoh Tri Hita Karana karya ST Pamuke?

Ogoh-ogoh bertema Tri Hita Karana karya ST Pamuke, Banjar Kedaton – Desa Sumerta Kelod mengangkat konsep keharmonisan sebagai landasan utama kehidupan. Dalam karya ini, Tri Hita Karana diposisikan sebagai anti tesis dari tema memuliakan air, yaitu menggambarkan akibat yang terjadi ketika air sebagai sumber kehidupan tidak dimuliakan dan dijaga.


Tri Hita Karana dan peran penting air dalam kehidupan

Tri Hita Karana terdiri dari tiga hubungan harmonis, yaitu:

  1. Parahyangan – hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
  2. Pawongan – hubungan manusia dengan sesama
  3. Palemahan – hubungan manusia dengan alam

Dalam ketiga aspek tersebut, air menjadi elemen utama penopang kehidupan. Air digunakan dalam ritual keagamaan, memenuhi kebutuhan manusia, serta menjaga keseimbangan ekosistem alam. Ketika air tercemar, dieksploitasi, atau tidak dihormati, maka keharmonisan Tri Hita Karana akan runtuh.


Konsep anti tesis: akibat ketika air tidak dimuliakan

Ogoh-ogoh ini membahas sisi gelap dari ketidakseimbangan alam, yaitu dampak keserakahan manusia terhadap hutan dan sumber air. Pembabatan hutan secara masif menyebabkan rusaknya daerah resapan air, banjir, longsor, kekeringan, hingga hilangnya tempat tinggal manusia.

Konsep ini menjadi pengingat bahwa alam tidak pernah diam; ketika dilukai, alam akan memberikan reaksi yang setimpal.


Visualisasi simbolik dalam Ogoh-Ogoh

Pesan filosofi tersebut divisualisasikan melalui beberapa elemen kuat:

  • Manusia yang terlilit pohon, melambangkan manusia yang terjebak oleh perbuatannya sendiri. Ini adalah gambaran saat bencana datang, di mana manusia hanya bisa terkurung di dalam rumah, kehilangan tempat tinggal, bahkan kehilangan rasa aman.
  • Pohon berwajah marah, sebagai personifikasi alam yang murka akibat eksploitasi dan ketidakpedulian manusia.
  • Raksasa berwajah hewan, hadir sebagai penjaga alam yang menyampaikan pesan moral bahwa manusia diberi Tri Pramana (sabda, bayu, idep) oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk berpikir, bertindak, dan berkata secara bijaksana.

Raksasa ini menegaskan bahwa alam memiliki kekuatan untuk menegur manusia ketika keharmonisan dilanggar.


Pesan moral yang ingin disampaikan

Melalui ogoh-ogoh ini, ST Pamuke menyampaikan pesan bahwa:

  • Manusia wajib menjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam
  • Air harus dimuliakan sebagai sumber kehidupan, bukan dieksploitasi tanpa batas
  • Ketika Tri Hita Karana diabaikan, alam akan menunjukkan kemurkaannya melalui bencana

Ogoh-ogoh ini bukan sekadar karya seni visual, melainkan media edukasi dan refleksi diri menjelang Hari Raya Nyepi.


Penutup

Ogoh-ogoh bertema Tri Hita Karana karya ST Pamuke, Banjar Kedaton – Desa Sumerta Kelod menjadi cerminan nyata hubungan sebab-akibat antara manusia dan alam. Ketika air tidak dimuliakan dan keharmonisan dilanggar, alam pun murka. Melalui visual pohon marah, manusia terlilit, dan raksasa berwajah hewan, karya ini mengajak masyarakat untuk kembali menyadari tanggung jawabnya sebagai makhluk ber-Tri Pramana demi menjaga keseimbangan kehidupan.

By gungde

Leave a Reply