Sagara Kreti adalah konsep pemuliaan lautan yang berasal dari Bahasa Jawa Kuna. Secara harfiah, sagara berarti laut dan kreti berarti pemuliaan atau perawatan. Konsep ini menempatkan laut sebagai elemen suci yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan dunia, kehidupan manusia, dan alam semesta.


Laut sebagai Ibu Semesta dalam Teks Kuno Bali

Dalam teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, laut dinarasikan sebagai ibu dari semesta. Laut dipahami sebagai ruang penciptaan, tempat awal kehidupan, sekaligus simbol kesucian.

Makna ini beririsan dengan kisah tirtha amreta atau air suci keabadian yang terdapat dalam teks Adiparwa, yang menegaskan bahwa air—dan laut—memiliki kekuatan spiritual untuk menopang kehidupan dan keabadian.


Apa Itu Sagara Kreti?

Sagara Kreti adalah ajaran yang menekankan pentingnya:

  • Memuliakan lautan
  • Menjaga kesucian air
  • Merawat keseimbangan alam dan manusia

Dalam lontar Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, Sagara Kreti dijelaskan sebagai bagian dari Sad Kreti, enam prinsip pemeliharaan dunia.


Sang Hyang Sandhijaya, Penjaga Sagara Kreti

Pemegang otoritas Sagara Kreti adalah Sang Hyang Sandhijaya, putra Bhatara Pasupati. Ia merupakan salah satu Dewata Sad Kreti Loka Bangsul yang bertugas menjaga keseimbangan kosmis.

Dalam lontar, Sang Hyang Sandhijaya juga dikenal dengan gelar:

  • Bhatara Dalem Luhuring Segara

Konsep Sagara Kreti dimuliakan dan dipuja secara khusus di Pura Dalem Sakenan, sebagai pusat spiritual pemuliaan laut.


Krisis Moral dan Laku Sungsang Masyarakat

Meski ajaran pemuliaan laut diwariskan secara turun-temurun, realitas modern menunjukkan adanya laku sungsang atau penyimpangan perilaku masyarakat.

Ego dan ahamkara (keakuan) mulai menguasai manusia, melahirkan sifat asuri sampad atau watak keraksasaan—yakni perilaku yang hanya berorientasi pada kekuasaan dan mengabaikan kesejahteraan bersama, termasuk kerusakan laut.


Hubungan Perilaku Manusia dan Wabah dalam Lontar

Dalam Lontar Purwana Yama Tattwa, ditegaskan bahwa perilaku buruk manusia (wong papakarma) dapat melahirkan:

  • Hama
  • Penyakit
  • Marana (bencana salah satu bentuknya adalah walang sangit)

Menariknya, Lontar Dharma Pemaculan menyebut bahwa walang sangit adalah rencang (pengikut) Sang Hyang Sandhijaya, entitas dewata penjaga Sagara Kreti yang dipuja di Pura Dalem Sakenan.

Hal ini menjadi simbol bahwa alam memberi peringatan ketika keseimbangan dilanggar.


Mulat Sarira: Introspeksi dan Pemuliaan Laut

Ajaran ini mengingatkan manusia Bali untuk Mulat Sarira—melakukan introspeksi diri. Kerusakan alam, khususnya laut, bukan sekadar masalah ekologis, tetapi juga masalah spiritual dan etika.

Dengan menjaga laut, manusia sejatinya sedang:

  • Memuliakan air
  • Menjaga keseimbangan dunia
  • Menetralisir wabah dan kekotoran

Makna Filosofis Sagara Kreti

Konsep Sagara Kreti bertujuan untuk:

  • Menjaga keseimbangan jagat
  • Meruwat kekotoran dunia
  • Menetralisir penyakit dan bencana

Sebagaimana tertuang dalam kutipan lontar:

pagêh mangrakṣa sāgara pakrêtti, pangayu jagat, mwang pamrayaścitta sarwwa kāla bhūta mānuṣa.
Humilangakên sarwwa manighra sarāt, mwang sarwwa jara maraṇa.

Yang bermakna bahwa pemeliharaan laut adalah jalan penyelamatan dunia, pembersihan kekotoran, serta penghilangan penyakit dan kematian yang tidak wajar.

By theo

Leave a Reply