Menilik Dapur Kreativitas: Proses Rumit di Balik Megahnya Ogoh-ogoh Bali Setiap menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, suasana di berbagai Banjar di seluruh Bali mulai berubah. Suara riuh rendah pemuda yang bekerja bakti dan aroma lem kanji mulai tercium. Foto di atas menangkap momen sakral sekaligus artistik: proses pembuatan Ogoh-ogoh, sebuah mahakarya seni rupa yang menjadi simbol penetralisir kekuatan negatif di alam semesta

Banjar Batannyuh, Denpasar Barat, kembali menjadi pusat perhatian dalam persiapan menyambut Hari Raya Nyepi dengan karya seni Ogoh-ogoh yang revolusioner. Tahun ini, para seniman lokal menghadirkan sebuah narasi visual yang menggabungkan elemen tradisional Raksasa dengan tema fauna laut yang tak terduga.

Berbeda dengan sosok Bhuta pada umumnya, karakter ini memiliki sepasang capit besar yang menonjol. Hal ini menunjukkan teknik stilir (penggubahan bentuk) yang sangat maju, di mana seniman menggabungkan kekuatan cengkeraman kepiting dengan proporsi otot manusia yang masif.

Konstruksi dan Struktur Dinamis

Pada tahap awal (seperti terlihat dalam gambar), struktur ini dibuat dengan ketelitian tinggi:

  • Rangka Primer: Menggunakan besi atau bambu untuk menopang beban capit yang menjorok ke depan agar tetap seimbang (balance).
  • Volume Tubuh: Dibentuk menggunakan teknik pelapisan material ringan untuk memastikan Ogoh-Ogoh tetap bisa diarak pada malam Pengerupukan.

Makna Simbolis “Yuyu” dalam Budaya Bali

Dalam ekologi dan mitologi Bali, kepiting (yuyu) sering dikaitkan dengan pelindung sumber air atau makhluk yang memiliki ketahanan luar biasa. Dalam konteks Ogoh-ogoh, capit besar melambangkan:

  • Kekuatan Mencengkeram: Simbolisme bagaimana sifat buruk manusia harus dicengkeram dan dikendalikan.
  • Penjaga Keseimbangan: Representasi alam bawah yang turut serta dalam proses penyucian diri menjelang hari keheningan (Nyepi).

Leave a Reply