proses pembuatan Ogoh-Ogoh yang dikerjakan oleh pemudi ST Dharma Shantika. Terlihat beberapa pemudi sedang membentuk dan merapikan badan Ogoh-Ogoh pada tahap awal pengerjaan, sebelum masuk ke proses penyempurnaan detail dan pengecatan.

Ogoh-Ogoh yang sedang dibuat masih berada pada fase pembentukan struktur tubuh. Bahan dasar seperti Rotan, kardus bekas,kertas dan lapisan perekat digunakan untuk menghasilkan bentuk anatomi yang proporsional. Tahap ini sangat penting karena menentukan karakter visual dan kekuatan ekspresi Ogoh-Ogoh secara keseluruhan.

Pembuatan Ogoh-Ogoh ini merupakan bagian dari persiapan menyambut Hari Raya Nyepi di Bali. Ogoh-Ogoh sendiri merupakan simbol Bhuta Kala, yang melambangkan energi negatif atau sifat buruk manusia. Melalui proses pembuatan, pengarakannya, hingga prosesi simbolis penghancuran, Ogoh-Ogoh menjadi sarana pembersihan diri dan lingkungan secara spiritual.

Keterlibatan pemudi ST Dharma Shantika dalam proses ini menunjukkan peran aktif perempuan dalam pelestarian budaya Bali. Para pemudi tidak hanya berperan sebagai pendukung, tetapi menjadi bagian dalam proses kreatif, mulai dari pembentukan, perapian, hingga pengolahan detail.

Kegiatan terlihat dilakukan secara bersama-sama dan penuh kebersamaan. Nilai gotong royong, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif tercermin jelas dari proses pengerjaan Ogoh-Ogoh ini. Selain sebagai kegiatan budaya, proses ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami makna tradisi secara langsung.

Secara keseluruhan, foto ini merepresentasikan pembuatan Ogoh-Ogoh oleh pemudi ST Dharma Shantika sebagai wujud pelestarian seni dan budaya Bali. Tradisi ini memperlihatkan bahwa nilai budaya tetap hidup dan berkembang melalui keterlibatan aktif generasi muda, khususnya pemudi, dalam setiap prosesnya.

Leave a Reply