Nangluk Merana Desa Adat Tembawu kembali dilaksanakan pada Minggu, 14 Desember 2025 sebagai wujud upacara adat untuk menjaga keseimbangan alam, menetralisir gangguan negatif, dan memohon kerahayuan bagi seluruh warga desa. Upacara ini merupakan tradisi penting di Bali, khususnya di wilayah Desa Adat Tembawu, yang setiap tahun rutin digelar sebagai bagian dari rangkaian yadnya.

Nangluk Merana sendiri berarti menolak hama atau wabah, dan menjadi ritual sakral untuk menjaga kesuburan alam serta keharmonisan antara manusia dan lingkungan.


Makna Sakral Upacara

Upacara Nangluk Merana Desa Adat Tembawu memiliki makna mendalam. Prosesi ini ditujukan untuk menetralisir potensi bencana seperti hama tanaman, penyakit, serta energi negatif yang dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat. Melalui persembahan dan doa, krama desa memohon perlindungan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam pelaksanaannya, warga membawa banten khusus, canang, serta perlengkapan upacara yang dipimpin oleh pemangku desa. Prosesi dilakukan dengan penuh khidmat, mengedepankan kesucian dan rasa hormat kepada alam.


Rangkaian Upacara

Upacara yang berlangsung pada 14 Desember 2025 ini diawali dengan persiapan banten di bale banjar. Setelah itu, seluruh warga bergabung dalam prosesi nunas tirta, dilanjutkan dengan pembersihan simbolis di batas wilayah desa.

Beberapa tahapan penting meliputi:

  • Pembersihan lingkungan desa
  • Persembahyangan bersama di pura kahyangan
  • Pembacaan doa penolak mara bahaya
  • Pelaksanaan upakara khusus di titik-titik tertentu wilayah desa

Ritual ini menjadi momentum kebersamaan sekaligus wujud syukur masyarakat Desa Adat Tembawu atas anugerah alam.


Tradisi yang Terus Dijaga dari Generasi ke Generasi

Nangluk Merana Desa Adat Tembawu bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas. Pelaksanaan tahun ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan alam harus terus dipelihara agar keberlanjutan kehidupan tetap terjaga.