Tradisi Tarik Peluk Sesetan, atau secara resmi disebut Omed-Omedan, merupakan warisan budaya luhur yang dijaga ketat oleh krama Banjar Tengah, Sesetan, Denpasar. Ritual ini diselenggarakan setahun sekali, tepatnya pada hari Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi).
Bagi masyarakat lokal, ini bukan sekadar interaksi fisik, melainkan sebuah simpul sosial yang mengikat harmoni antar generasi.
Makna Filosofis: Mengapa Disebut Omed-Omedan?
Secara harfiah, “Omed” berarti menarik. Dalam tradisi tarik peluk Sesetan, esensinya adalah pertemuan energi antara kelompok pemuda dan pemudi. Di tengah siraman air yang melimpah, para peserta melakukan aksi tarik-menarik dan saling merangkul sebagai simbol suka cita.
Tujuan Utama Ritual Ini:
- Menjaga Keseimbangan: Dipercaya sebagai ritual penolak bala (musibah) bagi warga desa.
- Solidaritas Sosial: Mempererat tali silaturahmi antar pemuda-pemudi di lingkungan banjar.
- Warisan Leluhur: Menjalankan amanah nenek moyang yang konon bermula dari kesembuhan Raja Pemecutan.
Semarak Omed-Omedan 2026: Disconnect to Reconnect
Pelaksanaan pada tahun 2026 ini membawa pesan kuat. Di tengah gempuran dunia digital, tradisi tarik peluk Sesetan menjadi momen nyata bagi para pesertanya untuk benar-benar hadir secara fisik dan batin (Disconnect to Reconnect).
Tahapan Prosesi:
- Penyucian: Seluruh peserta melakukan persembahyangan bersama untuk memohon kelancaran.
- Formasi Dua Sisi: Pemuda dan pemudi dibagi menjadi dua kubu yang saling berhadapan di jalan utama.
- Momen Interaksi: Saat aba-aba dimulai, satu perwakilan dari tiap sisi akan diusung untuk saling merangkul, sementara warga lainnya menyemprotkan air sebagai simbol pendinginan emosi dan penyucian diri.
Mengapa Tradisi Ini Begitu Istimewa?
Berbeda dengan festival budaya pada umumnya, Omed-Omedan menyajikan energi yang sangat organik dan penuh kegembiraan. Air yang membasahi seluruh area bukan hanya mendinginkan suasana, tapi juga melambangkan kesegaran baru dalam menyambut tahun baru Saka.
Melihat cuplikan Tradisi Tarik Peluk Sesetan tahun ini, kita diingatkan bahwa kekayaan budaya Bali tidak pernah lekang oleh waktu, selama akarnya tetap dijaga oleh generasi muda yang bangga akan identitasnya.