Sejarah Tari Baris Batu Nunggul bermula dari inisiatif Krama Banjar Pengembungan, Desa Adat Pererenan, untuk menciptakan tarian pengiring Upacara Melasti yang sakral. Tarian bebarisan ini diciptakan oleh I Made Agus Wira Adnyana untuk menyambut kedatangan para Dewa-Dewi di pesisir Pantai Pererenan. Melalui konsep yang matang, sejarah Tari Baris Batu Nunggul mengambil inspirasi dari sebuah batu karang legendaris yang dipercaya diletakkan oleh Sang Kebo Iwa. Karya seni ini melibatkan I Putu Ananta Wira Adhyatma sebagai penata gerak serta I Made Dwika Mahesa Galih sebagai penata iringan musiknya.
Mengenang Legenda Batu Nunggul di Pererenan
Pemilihan nama tarian ini tidak sembarangan karena memiliki akar sejarah yang sangat kuat pada masyarakat lokal di Bali. “Batu Nunggul” merujuk pada sebuah batu karang besar yang berdiri tegak di tengah perairan Pantai Pererenan sejak dahulu kala. Menurut kepercayaan warga sekitar, batu karang tersebut dipikul dan diletakkan di sana oleh sosok raksasa sakti bernama Sang Kebo Iwa. Legenda ini kemudian menjadi pondasi utama dalam membangun narasi tarian yang gagah dan penuh dengan aura perlindungan.
Masyarakat percaya bahwa titik koordinat batu tersebut merupakan area yang sangat penting bagi keseimbangan alam di Desa Adat Pererenan. Oleh karena itu, kehadiran tarian ini menjadi bentuk penghormatan nyata terhadap jejak sejarah yang ditinggalkan oleh para leluhur sakti. Alhasil, setiap gerak yang ditarikan membawa semangat penjagaan wilayah yang sangat kental dan terasa sangat magis bagi penontonnya. Nilai historis inilah yang membuat tarian tersebut memiliki jiwa yang berbeda dibandingkan dengan jenis tarian baris lainnya.
Simbol Pasukan Penjaga dalam Upacara Melasti
Secara filosofis, Tari Baris Batu Nunggul menggambarkan sekumpulan pasukan perkasa yang bertugas menjaga kesucian wilayah pesisir Pantai Pererenan. Mereka hadir sebagai bentuk penyambutan yang agung bagi pralingga Dewa-Dewi yang hadir dari seluruh wilayah Desa Adat Pererenan. Saat prosesi Melasti berlangsung, para penari akan menunjukkan wibawa seorang prajurit yang setia mengawal jalannya ritual keagamaan. Hal tersebut menciptakan harmoni antara seni pertunjukan dengan kebutuhan upacara yang sudah berjalan secara turun-temurun di Bali.
Kostum, vokal, dan gerak yang dihasilkan oleh tim kreatif Banjar Pengembungan memberikan identitas visual yang sangat kuat dan ikonik. Penata iringan juga berhasil menyelaraskan ketukan gamelan agar seirama dengan deburan ombak yang menerjang batu karang di tengah laut. Kerja sama yang apik ini menghasilkan sebuah pertunjukan yang mampu memukau mata sekaligus menggetarkan hati para umat yang hadir. Dengan demikian, tarian ini berhasil menjalankan fungsinya sebagai pelengkap upacara yang sangat estetik sekaligus sarat akan makna spiritual.
Inovasi Seni dari Krama Banjar Pengembungan
Lahirnya mahakarya ini merupakan bukti nyata dari kepedulian Krama Banjar Pengembungan terhadap kelestarian seni tradisional di era modern saat ini. Dukungan dari Kelihan Adat serta Kelihan Dinas Banjar Pengembungan menjadi kunci utama keberhasilan proyek seni yang sangat luar biasa ini. Mereka membuktikan bahwa inovasi tidak harus meninggalkan akar tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Sebaliknya, inovasi justru memperkuat identitas suatu desa adat agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi muda saat ini.
Proses latihan yang panjang dan dedikasi seluruh pihak terlibat patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya dari seluruh lapisan masyarakat Bali. Karya ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah tuntunan tentang bagaimana menghargai legenda dan sejarah melalui media seni tari. Kita semua berharap agar semangat kreatif seperti ini terus menular ke banjar-banjar lainnya di wilayah Bali dan sekitarnya. Mari kita jaga bersama warisan budaya yang sangat berharga ini agar tidak pernah hilang ditelan oleh zaman yang cepat.