STT Kanina Brata mempersembahkan karya ogoh-ogoh pada Caka 1948 dengan judul “Samara Rama Tambak”. Karya ini lahir dari kerja sama para pemuda dan pemudi yang tergabung dalam STT Kanina Brata.
Keberhasilan terciptanya ogoh-ogoh ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Para sponsor serta masyarakat turut memberikan bantuan sehingga proses pembuatan karya dapat berjalan dengan baik.
Ucapan Terima Kasih kepada Semua Pihak yang Terlibat
STT Kanina Brata menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses pembuatan ogoh-ogoh ini.
Dukungan datang dari para pemuda, pemudi, serta sponsor yang memberikan bantuan baik secara tenaga maupun dukungan lainnya. Berkat kebersamaan tersebut, sebuah karya ogoh-ogoh akhirnya dapat terwujud pada perayaan Caka 1948.
Semangat gotong royong ini juga menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi budaya Bali.
Makna Judul “Samara Rama Tambak”
Judul “Samara Rama Tambak” berasal dari istilah Sanskerta yang memiliki makna mendalam.
Kata Samara berarti perang atau pertempuran. Sementara itu, Rama Tambak merujuk pada jembatan yang dibangun oleh Prabu Rama Wijaya.
Secara keseluruhan, Samara Rama Tambak menggambarkan pertempuran yang terjadi saat proses pembangunan jembatan oleh Prabu Rama Wijaya dan pasukan wanara.
Kisah Pembangunan Jembatan Rama
Cerita ini diambil dari kisah epik Ramayana. Dalam kisah tersebut, Prabu Rama Wijaya berusaha menyeberang menuju Kerajaan Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana.
Untuk mencapai Alengka, pasukan wanara membangun sebuah jembatan di atas lautan yang dikenal sebagai Rama Tambak.
Namun pembangunan jembatan tersebut tidak berjalan mudah. Setiap malam, jembatan yang telah dibangun mengalami kerusakan.
Peran Yuyu Rumpung dalam Menggagalkan Jembatan
Kerusakan jembatan ternyata disebabkan oleh Yuyu Rumpung. Ia merupakan punggawa raksasa dari Kerajaan Alengka yang ditempatkan di samudra oleh Rahwana.
Yuyu Rumpung memiliki kesaktian luar biasa. Ia mampu hidup di air maupun di darat.
Dengan kekuatan tersebut, Yuyu Rumpung berusaha menggagalkan pembangunan jembatan yang dibuat oleh pasukan wanara.
Pertempuran Wanara Melawan Yuyu Rumpung
Setelah mengetahui penyebab kerusakan jembatan, pasukan wanara segera melakukan perlawanan.
Pasukan tersebut dipimpin oleh Hanoman dan Kapi Pramujabahu. Mereka berusaha menghadapi Yuyu Rumpung yang terus mengganggu pembangunan jembatan.
Dalam pertempuran itu, Yuyu Rumpung berhasil ditarik ke daratan. Akhirnya, ia dapat dikalahkan oleh pasukan wanara.
Dengan gugurnya Yuyu Rumpung, pembangunan jembatan dapat dilanjutkan hingga selesai.
Makna Simbolis dalam Cerita Samara Rama Tambak
Cerita Samara Rama Tambak memiliki makna simbolis yang mendalam.
Air dalam kisah tersebut melambangkan ketenangan dan kemurnian. Simbol ini menggambarkan kejernihan pikiran serta kebijaksanaan.
Sementara itu, pasukan wanara dapat dimaknai sebagai lambang ketenangan yang dimuliakan. Namun ketenangan tersebut terusik oleh kehadiran Yuyu Rumpung yang menjadi simbol kekuatan pengganggu.
Kemenangan pasukan wanara akhirnya melambangkan keberhasilan menjaga keseimbangan dan kesejahteraan.
Ogoh-Ogoh sebagai Media Penyampaian Nilai Budaya
Melalui karya ogoh-ogoh ini, STT Kanina Brata tidak hanya menampilkan karya seni. Mereka juga menyampaikan pesan moral yang berasal dari kisah klasik.
Ogoh-ogoh menjadi media visual untuk menceritakan nilai-nilai keberanian, kebersamaan, serta perjuangan dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
Karya ini sekaligus menjadi bentuk pelestarian budaya yang terus diwariskan kepada generasi muda.