Bagaimana kesiapan pemuda di Ubung dalam menyambut hari raya tahun ini? Proses penilaian ogoh-ogoh ST. Çantika yang berlokasi di Banjar Sedana Mertha, Ubung, akhirnya resmi dilaksanakan. Momen ini menjadi puncak dari kerja keras para pemuda selama berbulan-bulan dalam merangkai kreativitas seni patung raksasa yang ramah lingkungan dan penuh nilai filosofis.

Apa Itu Proses Penilaian Ogoh-Ogoh ST. Çantika?

Proses ini merupakan tahap krusial di mana tim juri dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar melakukan evaluasi langsung ke lapangan. Dalam agenda penilaian ogoh-ogoh ST. Çantika, juri tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga melakukan tanya jawab mendalam mengenai konsep cerita dan teknik konstruksi yang digunakan.

Setiap detail, mulai dari ekspresi wajah tokoh yang diangkat hingga kekuatan struktur rangka, menjadi poin penilaian yang menentukan apakah karya tersebut layak melaju ke babak selanjutnya di tingkat kota. Antusiasme krama Banjar Sedana Mertha terlihat sangat tinggi saat mendampingi para Yowana mempresentasikan karya unggulan mereka.

Detail Karya di Banjar Sedana Mertha, Ubung

Tahun ini, ST Çantika (Sekaa Teruna Çantika) mengusung tema yang berakar pada sastra agama Bali. Kreativitas yang ditampilkan menonjolkan penggunaan bahan-bahan alami seperti anyaman bambu dan kertas tanpa melibatkan material plastik. Hal ini sejalan dengan komitmen Kota Denpasar dalam menjaga kelestarian alam melalui tradisi yang berkelanjutan.

Berikut adalah beberapa aspek utama yang dipamerkan saat hari H penilaian:

  • Komposisi Warna: Penggunaan gradasi warna alami yang memperkuat karakter tokoh.
  • Teknik Gerak: Inovasi pada bagian-bagian tertentu yang dapat digerakkan secara manual.
  • Narasi Filosofis: Cerita yang diangkat memberikan pesan edukasi moral bagi penontonnya.

Mengapa Penilaian Tahun Caka 1948 Sangat Kompetitif?

Dengan diadakannya Kasanga Fest 2026, standar penilaian ogoh-ogoh ST Çantika dan banjar lainnya di Denpasar Utara meningkat drastis. Persaingan antar STT (Sekaa Teruna Teruni) bukan lagi sekadar soal ukuran besar, melainkan kedalaman detail dan ketepatan anatomi.

Melalui ajang ini, diharapkan generasi muda di Ubung tetap memegang teguh identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi. Kebersamaan yang terbangun saat proses pembuatan hingga hari penilaian menjadi modal sosial yang kuat bagi komunitas banjar di masa depan.

Leave a Reply