Video proses pembuatan ini mengungkap cerita Ogoh-ogoh Sang Tiga Bhucari yang sangat legendaris di kalangan masyarakat Bali. ST. Tritunggal Jaya bersama @guswidhiiii mengangkat kisah kutukan Dewi Mayakresna menjadi sosok raksasa yang sangat menyeramkan. Melalui cerita Ogoh-ogoh Sang Tiga Bhucari, pemuda di Banjar ini ingin menyampaikan pesan moral tentang pengendalian hawa nafsu. Kisah tragis ini bermula dari kemurkaan Batara Guru saat menyaksikan perbuatan menyimpang putrinya di tengah Hutan Nandana. Oleh karena itu, visualisasi raksasa ini menjadi salah satu karya yang paling dinanti pada perayaan Nyepi 2026.
Asal-usul Kutukan Dewi Mayakresna
Dewi Mayakresna sebenarnya adalah seorang putri yang memiliki paras cantik jelita namun dikuasai nafsu yang besar. Tercatat, ia telah menikah sebanyak 35 kali dan membunuh semua suaminya sendiri dengan sangat keji. Kemudian, ia bertemu dengan dua saudara bangsa Gandarwa bernama Bajra Daksa serta adiknya, Bajra Angkara. Mereka melakukan perbuatan asusila di bawah pohon Asokamaya tanpa menyadari kehadiran Batara Guru yang sedang yoga. Akhirnya, Sang Ayah menjatuhkan kutukan berat karena perbuatan mereka dianggap sangat tidak layak bagi penghuni kedewataan.
Transformasi Menjadi Sosok Butha Bhucari
Akibat kutukan tersebut, ketiganya diturunkan ke dunia fana untuk menjadi penjaga keseimbangan alam dalam wujud raksasa. Dewi Mayakresna berubah menjadi Batur Kalika yang kini dikenal dengan sebutan Dhurga Bhucari dalam mitologi Bali. Selanjutnya, Bajra Daksa berubah menjadi Bhuta Ijo yang mendapat sebutan sebagai Bhuta Bhucari yang sangat kuat. Sementara itu, Bajra Angkara bertransformasi menjadi Bhuta Abang yang sering disebut dengan nama Kala Bhucari oleh masyarakat.
Detail Artistik dan Makna Filosofis
Para seniman muda sangat memperhatikan detail anatomi agar ekspresi kemarahan dari ketiga tokoh tersebut terlihat nyata. Meskipun menggunakan bahan-bahan tradisional, teknik pewarnaan yang digunakan memberikan kesan dimensi yang sangat dalam dan mistis. Selain itu, kolaborasi kreatif ini juga melibatkan videografer @rianartayasa_ untuk mendokumentasikan setiap tahapan pengerjaan. Dengan demikian, penonton dapat merasakan perjuangan serta dedikasi para pemuda dalam melestarikan seni budaya Bali.
Maka dari itu, karya ini bukan sekadar pajangan saat malam pengerupukan melainkan sebuah sarana edukasi spiritual. Akhirnya, perjuangan ST. Tritunggal Jaya diharapkan mampu menginspirasi banjar lain untuk terus menggali potensi sastra kuno. Semoga semangat Caka 1948 ini membawa berkah bagi seluruh masyarakat yang merayakan hari suci Nyepi nanti.