Penilaian ogoh-ogoh di Banjar Merta Rauh, Denpasar Utara menghadirkan karya berjudul “Luah Utah” yang dibawakan oleh ST Eka Pramana. Karya ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menjelang Hari Raya Nyepi di Bali.

Ogoh-ogoh tersebut menampilkan konsep yang sarat makna. Selain menonjolkan unsur visual yang kuat, karya ini juga membawa pesan tentang pembersihan sifat negatif dalam diri manusia.

Tradisi ogoh-ogoh sendiri telah menjadi bagian penting dari budaya Bali. Setiap banjar biasanya menampilkan karya terbaiknya sebagai bentuk kreativitas generasi muda sekaligus pelestarian budaya.

Makna Filosofi Luah Utah

Istilah Luah Utah memiliki makna mengeluarkan atau membuang sesuatu yang bersifat kotor atau negatif.

Dalam konsep ogoh-ogoh, makna ini biasanya diwujudkan melalui sosok menyeramkan yang melambangkan sifat bhuta kala. Visual tersebut menggambarkan energi negatif yang harus dinetralkan sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.

Melalui simbol tersebut, masyarakat diingatkan tentang pentingnya penyucian diri serta menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Peran ST Eka Pramana

ST Eka Pramana sebagai sekaa teruna di Banjar Merta Rauh berperan aktif dalam pembuatan ogoh-ogoh ini.

Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong oleh para pemuda banjar. Mulai dari menyusun konsep, membuat rangka, membentuk karakter, hingga menyelesaikan detail artistik.

Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga memperkuat kebersamaan antar anggota sekaa teruna.

Penilaian Ogoh-Ogoh di Denpasar Utara

Penilaian ogoh-ogoh di Denpasar Utara menjadi ajang apresiasi bagi kreativitas setiap banjar.

Beberapa aspek yang biasanya dinilai antara lain:

  • Konsep dan filosofi cerita
  • Kreativitas desain ogoh-ogoh
  • Teknik pengerjaan dan detail
  • Penampilan saat pementasan

Melalui karya “Luah Utah”, ST Eka Pramana menunjukkan semangat generasi muda dalam menjaga tradisi sekaligus menghadirkan inovasi dalam seni ogoh-ogoh Bali.

Tradisi Ogoh-Ogoh Menjelang Nyepi

Ogoh-ogoh merupakan bagian dari rangkaian upacara menjelang Nyepi, khususnya pada malam pengerupukan.

Tradisi ini melambangkan upaya manusia untuk menetralisir energi negatif sebelum memasuki hari suci. Karena itu, setiap ogoh-ogoh biasanya memiliki cerita dan filosofi yang kuat.

Karya “Luah Utah” dari ST Eka Pramana menjadi salah satu contoh bagaimana nilai budaya dan kreativitas dapat berpadu dalam tradisi ogoh-ogoh di Denpasar Utara.

Leave a Reply