Apa Itu “Somya Kasmala Durga” dari ST. Eka Dharma Castra?

ST. Eka Dharma Castra mempersembahkan karya ogoh-ogoh bertajuk “Somya Kasmala Durga” di Zona 5 sebagai wujud kreativitas generasi muda dalam menjaga tradisi dan nilai spiritual. Karya ini tidak hanya menampilkan visual yang kuat, tetapi juga sarat makna filosofis tentang keseimbangan antara energi somya (kelembutan) dan kasmala (kotoran atau sifat negatif) dalam diri manusia.

Dalam konteks budaya Bali, figur Durga sering dimaknai sebagai manifestasi kekuatan sakral yang memiliki dua sisi: pelindung sekaligus penghancur sifat adharma. Melalui konsep ini, ST. Eka Dharma Castra menghadirkan refleksi tentang proses pembersihan diri menjelang Hari Raya Nyepi.

Makna Filosofis “Somya Kasmala Durga”

1. Somya: Energi Kesejukan dan Kedamaian

Somya melambangkan kelembutan, keteduhan, serta energi positif yang membawa keseimbangan. Dalam ajaran Hindu Bali, sifat somya dikaitkan dengan pengendalian diri dan kebijaksanaan dalam bertindak.

2. Kasmala: Representasi Sifat Negatif

Kasmala merujuk pada kekotoran batin atau sifat-sifat negatif seperti amarah, keserakahan, dan ego berlebihan. Simbol ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki tantangan internal yang perlu disucikan.

3. Durga: Kekuatan Transformasi

Sosok Durga bukan sekadar simbol kegelapan, melainkan juga kekuatan transformasi. Ia menggambarkan proses penghancuran sifat buruk agar tercipta keseimbangan spiritual.

Dengan memadukan tiga unsur tersebut, ogoh-ogoh “Somya Kasmala Durga” menjadi simbol perjalanan batin manusia menuju penyucian diri.

Peran ST. Eka Dharma Castra di Zona 5

Partisipasi ST. Eka Dharma Castra di Zona 5 menunjukkan komitmen pemuda adat dalam melestarikan tradisi ogoh-ogoh sebagai warisan budaya Bali. Tidak hanya berfokus pada estetika, mereka juga mengangkat nilai filosofi yang mendalam sehingga karya ini memiliki pesan edukatif sekaligus spiritual.

Kehadiran karya ini di Zona 5 diharapkan mampu menarik perhatian masyarakat serta memperkuat identitas budaya lokal melalui kreativitas yang inovatif namun tetap berakar pada pakem tradisi.

Mengapa “Somya Kasmala Durga” Relevan?

Menjelang Hari Raya Nyepi, tema tentang penyucian diri dan keseimbangan batin menjadi sangat relevan. Konsep somya dan kasmala mengajak masyarakat untuk merenung, mengendalikan diri, dan memperbaiki kualitas spiritual sebelum memasuki tahun Saka yang baru.

Dengan mengangkat tema ini, ST. Eka Dharma Castra tidak hanya menciptakan karya seni, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan spiritual yang kuat kepada generasi muda maupun masyarakat luas.

Leave a Reply