Kapan penilaian Kompetisi Ogoh-Ogoh Pekandelan Legian dilaksanakan? Penilaian resmi untuk ajang ini berlangsung pada Sabtu, 21 Februari 2026. Acara tersebut mencakup wilayah Zona 6 Kabupaten Badung. Selain itu, kegiatan ini merupakan seleksi penting tingkat kabupaten yang sangat dinantikan oleh warga lokal.

Eksplorasi Seni Budaya di Kawasan Kuta

Kabupaten Badung kembali memukau publik melalui kreativitas para pemudanya. Oleh karena itu, dalam ajang Kompetisi Ogoh-Ogoh Pekandelan Legian, Banjar Pekandelan menampilkan karya yang luar biasa. Patung raksasa tersebut tidak hanya megah secara visual. Namun, karya ini juga menyimpan filosofi religius dan kritik sosial yang mendalam.

Sebagai tambahan, Legian menjadi titik krusial dalam persaingan kreativitas di Badung. Panitia menekankan penggunaan bahan ramah lingkungan tahun ini. Misalnya, penggunaan anyaman bambu dan kertas bekas sangat diutamakan. Hal ini dilakukan demi mendukung semangat pelestarian alam di Bali.

Detail Teknis dan Kriteria Penilaian Zona 6

Berdasarkan laporan tim Balikami, juri sangat teliti dalam menilai. Selanjutnya, ada beberapa aspek utama yang menjadi fokus utama di Banjar Pekandelan:

  • Anatomi: Ketepatan bentuk fisik figur.
  • Ekspresi: Kedalaman emosi pada wajah karakter.
  • Warna: Estetika pewarnaan yang harmonis.
  • Sinopsis: Kesesuaian narasi dengan wujud visual.

Selain itu, juri juga melihat kekuatan struktur kerangka patung. Jadi, setiap detail kecil sangat memengaruhi nilai akhir peserta.

Mengapa Karya STT di Legian Selalu Menonjol?

Zona 6 yang mencakup wilayah Kuta memiliki keunikan tersendiri. Bahkan, para pemuda di sini mampu memadukan tradisi murni dengan sentuhan modern. Keberhasilan festival ini membuktikan dedikasi pemuda Badung yang tetap solid. Meskipun arus pariwisata sangat deras, mereka tetap menjaga warisan leluhur.

Singkatnya, penilaian ini bukan sekadar mencari pemenang. Sebaliknya, acara ini adalah bentuk apresiasi terhadap proses kolaborasi komunitas lokal. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk terus mendukung karya seni ini.

Kesimpulan dan Harapan Budaya

Akhirnya, melalui kegiatan tahunan ini, generasi muda Bali memiliki wadah berekspresi. Semangat gotong royong menjadi bukti nyata kearifan lokal tetap hidup. Oleh karena itu, mari kita apresiasi setiap karya seni yang tercipta di tanah para Dewa ini.

Leave a Reply