Apa Itu Ogoh-Ogoh “Janmanira Sang Kawikan”?
Ogoh-ogoh Janmanira Sang Kawikan merupakan karya seni yang dipersembahkan oleh ST. Eka Karma, Banjar Pemamoran Kuta pada perayaan Nyepi Caka 1948. Judul ini bermakna “Lahirnya Ia yang Bijaksana”, sebuah simbol kelahiran kesadaran dan kebijaksanaan di tengah dinamika zaman modern.
Dalam tradisi Bali, ogoh-ogoh bukan sekadar patung raksasa yang diarak menjelang Hari Raya Nyepi, tetapi media refleksi sosial, spiritual, dan budaya. Setiap karya membawa pesan moral yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Makna Filosofis “Janmanira Sang Kawikan”
Istilah “Janmanira” berarti kelahiran atau keberadaan seseorang, sedangkan “Sang Kawikan” merujuk pada sosok yang bijaksana. Secara keseluruhan, karya ini mengandung pesan bahwa kebijaksanaan harus lahir dalam diri setiap insan.
Di era ketika informasi menyebar begitu cepat dan sering kali tidak terkendali, masyarakat dituntut untuk:
- Berpikir sebelum bertindak
- Menyaring informasi sebelum mempercayai
- Mengedepankan akal sehat dan nilai dharma
- Tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas kebenarannya
Ogoh-ogoh ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kedewasaan berpikir.
Refleksi Zaman: Tantangan Era Digital
Karya “Janmanira Sang Kawikan” merepresentasikan situasi global saat ini, ketika arus informasi dari media sosial, portal berita, dan berbagai platform digital mengalir tanpa henti. Tanpa kebijaksanaan, informasi dapat berubah menjadi sumber konflik, kesalahpahaman, bahkan perpecahan.
Pesan moral yang ingin ditegaskan adalah pentingnya kesadaran kolektif untuk tidak bertindak secara impulsif. Setiap keputusan yang diambil hendaknya melalui proses pertimbangan yang matang agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dengan demikian, ogoh-ogoh ini bukan hanya simbol visual yang megah, tetapi juga sarana edukasi sosial yang kuat.
Peran ST. Eka Karma Banjar Pemamoran Kuta
ST. Eka Karma sebagai sekaa teruna di Banjar Pemamoran Kuta menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya sekaligus menyampaikan kritik sosial yang konstruktif. Melalui karya ini, generasi muda Bali turut mengambil peran aktif dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman.
Semangat kebersamaan, kreativitas, dan tanggung jawab sosial tercermin dalam proses pembuatan hingga pementasan ogoh-ogoh ini pada Caka 1948.
Kesimpulan
“Janmanira Sang Kawikan” adalah ajakan untuk melahirkan kebijaksanaan dalam diri masing-masing individu. Di tengah derasnya arus informasi, hanya dengan pikiran jernih dan sikap bijaksana kita dapat menjaga harmoni.
Karya ini menjadi pengingat bahwa refleksi dan kesadaran diri merupakan fondasi utama dalam menjalani kehidupan modern tanpa kehilangan nilai budaya dan spiritual.
Tabik pakulun.