Transformasi luar biasa terlihat dalam konsep Before – After “BALA UTPATA” yang diusung oleh Dharma Pertiwi. Mengangkat tema besar tentang kekuatan, perubahan, dan pengendalian energi negatif, karya ini menjadi bagian dari semangat perayaan Caka 1948 yang sarat makna.
Dengan tagline “A Dedication From West”, karya ini bukan sekadar ogoh-ogoh. Ini adalah persembahan, refleksi, dan simbol perjalanan spiritual.
Apa Itu Bala Utpata?
Secara filosofis, Bala Utpata dapat dimaknai sebagai energi kekuatan yang muncul secara dahsyat — seringkali merepresentasikan gejolak atau kekacauan besar.
Dalam konteks ogoh-ogoh Bali, tema ini merefleksikan:
- Ledakan emosi dan ambisi
- Ketidakseimbangan yang terjadi akibat ego
- Transformasi dari energi negatif menuju harmoni
Konsep Before–After menekankan perubahan bentuk, karakter, dan makna secara visual maupun filosofis.
Makna “Dharma Pertiwi” dalam Konsep Ini
Nama Dharma Pertiwi membawa pesan kuat tentang kewajiban menjaga keseimbangan bumi (pertiwi).
Melalui tema Bala Utpata, karya ini ingin menunjukkan bahwa:
Kekuatan tanpa kendali akan menghancurkan
Setiap kekacauan menyimpan peluang untuk perubahan
Dharma atau kebenaran adalah jalan menuju keseimbangan
Pesan ini sangat relevan menjelang Hari Raya Nyepi, saat umat Hindu melakukan refleksi diri dan penyucian alam semesta.
Konsep Before – After dalam Visual Ogoh-Ogoh
Konsep Before–After bukan sekadar perubahan fisik, tetapi simbol perjalanan energi.
Before
Menggambarkan sosok penuh amarah, liar, dan tak terkendali. Biasanya divisualisasikan dengan ekspresi tajam, api, atau sayap yang merepresentasikan kekuatan besar.
After
Transformasi menuju keseimbangan, di mana energi yang sama diarahkan menjadi lebih stabil dan terkontrol.
Pendekatan ini membuat karya terlihat dinamis dan berbeda dari konsep ogoh-ogoh pada umumnya.
Relevansi dengan Caka 1948
Perayaan Tahun Baru Saka (Caka) adalah momentum penyucian dan introspeksi.
Tema Bala Utpata seakan mengingatkan bahwa dalam setiap diri manusia ada potensi kekacauan, namun juga potensi perubahan menuju dharma.
Tagar seperti #caka1948 dan #ogohogoh memperkuat identitas karya sebagai bagian dari tradisi budaya Bali yang terus berkembang.
Kesimpulan
Before – After “BALA UTPATA” bukan hanya soal perubahan visual, tetapi tentang perjalanan spiritual.
Melalui dedikasi Dharma Pertiwi dan semangat “A Dedication From West”, karya ini menjadi simbol bahwa kekuatan terbesar bukan pada amarahnya — melainkan pada kemampuannya untuk berubah.
Tradisi ogoh-ogoh kembali membuktikan bahwa seni dan filosofi berjalan beriringan dalam menjaga warisan budaya Bali.