Prosesi Ngendagin Taru Lepang merupakan tahapan awal yang sangat penting dalam rangkaian upacara keagamaan di Bali, khususnya bagi krama Panjak Lepang. Pelaksanaan Prosesi Ngendagin Taru Lepang ini menandai dimulainya pengerjaan atau perbaikan citra suci Tuhan yang disebut dengan upacara Ngodakin lan Nangiang Ida Sesuhunan. Ritual ini dilangsungkan dengan penuh khidmat tepat pada hari Some Kliwon Wuku Uye, tanggal 2 Februari 2026.
Apa Itu Upacara Ngendagin Taru?
Pertama-tama, kita perlu memahami makna dari Ngendagin Taru secara mendalam. Ngendagin secara harfiah berarti memulai atau membuka, sedangkan Taru berarti kayu. Jadi, ritual ini adalah upacara mohon izin secara spiritual untuk mulai mengerjakan kayu suci yang akan digunakan sebagai bahan utama pembuatan atau perbaikan pratima Ida Sesuhunan. Tanpa izin niskala, proses pengerjaan tidak boleh dilakukan karena kayu tersebut dianggap memiliki jiwa atau kekuatan magis.
Selain itu, upacara ini bertujuan untuk membersihkan material kayu dari unsur-unsur negatif. Para krama Panjak Lepang berkumpul untuk memohon restu agar seluruh proses pengerjaan berjalan lancar tanpa hambatan. Oleh karena itu, suasana sakral sangat terasa ketika mantra-mantra suci mulai dirapalkan oleh sang pemuput upacara. Hal ini merupakan wujud bakti yang tulus dari masyarakat terhadap simbol stana Tuhan.
Jalannya Prosesi di Banjar Lepang
Selanjutnya, prosesi di Lepang ini dipuput langsung oleh Ida Pedanda Nabe dari Griya Tegal Jingga Denpasar. Kehadiran beliau memberikan tuntunan spiritual yang kuat bagi seluruh krama yang hadir. Selain itu, hadir pula Ida Ratu Dalem Smaraputra yang menambah nilai kesakralan dalam upacara tersebut. Kehadiran tokoh-tokoh suci ini memastikan bahwa setiap tahapan ritual sudah sesuai dengan sastra agama dan tradisi turun-temurun.
Dalam rangkaian yang sama, dilaksanakan juga upacara nunas rambut. Tahapan ini sangat rahasia dan sakral dalam tradisi Ngodakin di Bali. Masyarakat percaya bahwa setiap helaian material suci yang digunakan memiliki kekuatan pelindung bagi desa. Oleh sebab itu, seluruh Panjak Lepang mengikuti setiap detail acara dengan sikap pemedal atau penuh rasa hormat demi kelancaran labda karya.
Harapan dan Doa Panjak Lepang
Di sisi lain, pelaksanaan ritual ini juga menjadi momen pemersatu bagi seluruh masyarakat Banjar Lepang. Mereka bergotong royong menyiapkan segala sarana upakara yang diperlukan. Harapan besar tertuju pada kelancaran pengerjaan Ida Sesuhunan hingga nanti tiba waktunya dipasupati kembali. Doa-doa dipanjatkan agar Ida Sesuhunan senantiasa memberikan anugerah serta perlindungan bagi seluruh warga desa agar terhindar dari marabahaya.
Akhirnya, prosesi ini bukan sekadar rutinitas upacara semata bagi krama Bali. Ini adalah bukti nyata betapa kuatnya ikatan spiritual antara manusia, alam (melalui media kayu), dan Sang Pencipta. Keberhasilan upacara Ngendagin Taru ini menjadi pondasi utama bagi kesuksesan rangkaian upacara Ngodakin lan Nangiang di masa mendatang. Semoga seluruh Panjak Lepang selalu diberkati dalam menjaga tradisi suci yang sangat indah ini.