Monumen Sejarah Puputan Badung Resmi Dibuka
Peresmian Monumen Peristiwa Puputan Badung menjadi momen penting bagi masyarakat Bali, khususnya warga Denpasar. Setelah melalui proses pembangunan selama beberapa bulan, monumen ini akhirnya dapat dikunjungi oleh masyarakat umum sebagai ruang edukasi sekaligus refleksi sejarah.
Bangunan ini didirikan untuk mengenang perjuangan heroik rakyat Badung dalam menghadapi penjajah pada tahun 1906. Peristiwa tersebut menjadi simbol keberanian dan pengorbanan yang tak ternilai dalam sejarah Bali.
Sejarah Singkat Puputan Badung Tahun 1906
Puputan Badung terjadi pada 20 September 1906, ketika Raja Badung beserta rakyatnya memilih melakukan perlawanan habis-habisan terhadap kolonial Belanda. Istilah “puputan” sendiri bermakna perang hingga titik akhir sebagai bentuk mempertahankan kehormatan dan martabat.
Peristiwa ini dikenang sebagai salah satu tragedi paling heroik dalam sejarah perjuangan masyarakat Bali. Semangat tersebut kini diabadikan melalui monumen yang berdiri megah di pusat kota.
Diorama Karya Marmar Herayukti Jadi Sorotan
Daya tarik utama dari monumen ini adalah diorama yang dibuat oleh Marmar Herayukti. Melalui karya seninya, Marmar Herayukti menggambarkan suasana dramatis saat rakyat Badung menghadapi pasukan penjajah.
Detail kostum adat, ekspresi wajah para pejuang, hingga latar suasana dibuat dengan sangat realistis. Diorama ini membantu pengunjung memahami gambaran situasi saat peristiwa 1906 terjadi. Elemen visual tersebut menjadikan monumen bukan sekadar bangunan peringatan, tetapi juga media pembelajaran sejarah yang kuat secara emosional.
Fungsi Edukasi dan Wisata Sejarah
Kehadiran monumen ini memperkaya destinasi wisata sejarah di Bali. Selama ini, Bali lebih dikenal sebagai tujuan wisata alam dan budaya. Dengan adanya situs bersejarah ini, wisata edukasi di Denpasar semakin berkembang.
Pelajar dan mahasiswa dapat memanfaatkan lokasi ini sebagai sumber pembelajaran langsung mengenai sejarah perjuangan lokal. Informasi yang disajikan di area monumen membantu generasi muda memahami konteks sosial dan politik pada masa penjajahan.
Selain menjadi tempat mengenang sejarah, monumen ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa nasionalisme dan kebanggaan terhadap warisan perjuangan para leluhur Bali.