Denpasar kembali berdenyut. Suara dentuman musik penyemangat dan aroma lem kayu mulai memenuhi udara di berbagai sudut kota. Di tengah persaingan kreativitas pemuda Bali yang semakin kompetitif, ST. Cantika (STC) kembali mencuri perhatian melalui unggahan terbaru mereka yang menandai hitung mundur H-12 menuju malam Pengerupukan Nyepi Caka 1948.

Dedikasi Tanpa Batas di Balai Banjar

Melihat kerangka yang sudah berdiri tegak, ST. Cantika tampaknya tidak main-main tahun ini. Foto yang beredar menunjukkan struktur anatomi yang sangat kompleks—sebuah ciri khas yang selalu melekat pada karya “Cantika Jaya”. Proses ini bukan sekadar membuat patung raksasa, melainkan sebuah ritual seni yang melibatkan perhitungan estetika dan teknis yang matang.

Setiap lekuk otot pada figur ogoh-ogoh tersebut dikerjakan dengan detail yang presisi. Penggunaan teknik ulatan (anyaman bambu) yang halus dipadukan dengan teknik anatomi modern menunjukkan bahwa ST. Cantika tetap setia pada pakem tradisional namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.

Mengapa Ogoh-Ogoh ST. Cantika Selalu Dinanti?

Bagi para pengamat seni ogoh-ogoh di Denpasar, ST. Cantika adalah salah satu barometer kualitas. Berikut adalah alasan mengapa karya mereka selalu masuk dalam daftar “Wajib Tonton” setiap tahunnya:

1. Narasi dan Filosofi yang Kuat

Setiap tahun, ST. Cantika dikenal selalu membawa tema yang berakar pada sastra agama atau isu sosial terkini. Mereka tidak hanya mengandalkan visual yang megah, tetapi juga pesan moral (sinopsis) yang mampu menyentuh hati penontonnya.

2. Inovasi Material Ramah Lingkungan

Sejalan dengan himbauan Pemerintah Kota Denpasar, ST. Cantika secara konsisten menggunakan bahan-bahan organik. Mulai dari kerangka bambu hingga pelapis kertas dan pewarna alami, membuktikan bahwa kreativitas tinggi tidak harus merusak lingkungan.

3. Kekompakan “Cantika Jaya”

Semboyan “Cantika Jaya” bukan sekadar kata-kata. Solidaritas para anggota sekaa truna yang rela begadang hingga dini hari demi menyelesaikan setiap inci mahakarya ini adalah bumbu utama di balik estetika visual yang kita lihat.

Menghitung Hari Menuju Malam Pengerupukan

Dengan waktu yang tersisa kurang dari dua minggu, tahap finishing atau pewarnaan menjadi momen yang paling menentukan. Ekspresi wajah ogoh-ogoh akan mulai “hidup” pada fase ini. Bagi masyarakat Denpasar, melihat progres H-12 ini adalah pengingat bahwa hari suci Nyepi sudah di depan mata.

Mari kita nantikan kejutan apa yang akan dibawa oleh ST. Cantika di parade tahun ini. Apakah mereka akan kembali mendominasi panggung kompetisi di Denpasar? Satu yang pasti, semangat kreativitas pemuda Bali tidak akan pernah padam.

Leave a Reply