Pura Besakih adalah pura terbesar dan paling suci di Bali. Karena menganggapnya sangat penting, pura ini dikenal sebagai “Ibu dari Segala Pura”. Letaknya berada di lereng Gunung Agung, gunung tertinggi yang dianggap paling sakral oleh umat Hindu Bali.
Tidak seperti pura lain, Besakih bukan satu bangunan tunggal. Sebaliknya, kompleks ini terdiri dari lebih dari 20 pura yang saling terhubung. Pura Penataran Agung menjadi pusat utama dari seluruh kawasan.
Mengapa Pura Besakih Dianggap Paling Suci?
Pertama, lokasinya berada di Gunung Agung. Dalam kepercayaan Hindu Bali, gunung adalah tempat bersemayam para dewa. Oleh karena itu, Besakih memiliki kedudukan spiritual tertinggi.
Kedua, pura ini menjadi pusat upacara besar seperti Eka Dasa Rudra dan Panca Wali Krama. Upacara tersebut melibatkan umat Hindu dari seluruh Bali. Dengan demikian, Besakih bukan hanya tempat ibadah lokal, tetapi pusat keagamaan di seluruh pulau.
Siapa Rsi Markandeya dan Apa Perannya?
Menurut tradisi Bali, Rsi Markandeya adalah tokoh penting dalam sejarah Pura Besakih. Ia merupakan pendeta suci yang datang dari Jawa pada abad ke-8.
Awalnya, beliau bermeditasi di Gunung Dieng. Namun kemudian, ia menerima wahyu untuk menuju Bali. Oleh karena itu, ia memimpin pengikutnya membuka hutan di lereng Gunung Agung.
Pada percobaan pertama, banyak pengikutnya meninggal. Konon, mereka terkena penyakit dan gangguan alam. Oleh karena itu, Rsi Markandeya kembali ke Jawa untuk memperdalam spiritualitasnya.
Penanaman Panca Datu: Awal Berdirinya Besakih
Setelah kembali ke Bali, Rsi Markandeya melakukan ritual khusus. Ia menanam Panca Datu, yaitu lima logam suci: emas, perak, tembaga, besi, dan perunggu.
Ritual ini dipercaya membawa keseimbangan dan perlindungan. Sejak saat itu, wilayah tersebut menjadi lebih aman. Karena keberhasilannya, tempat tersebut dinamakan Basuki, yang berarti keselamatan. Dari sinilah nama Besakih berasal.
Dengan demikian, Pura Besakih lahir bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai pusat spiritual yang melalui proses panjang.
Perkembangan Pura Besakih dalam Sejarah Bali
Selanjutnya pada masa kerajaan Bali, Besakih berkembang pesat. Para raja memperluas kompleks pura secara bertahap. Akibatnya, kawasan ini menjadi pusat ritual negara.
Bahkan setelah runtuhnya Majapahit, Besakih tetap menjadi pusat spiritual utama. Hingga saat ini, pura ini tetap aktif digunakan untuk berbagai upacara besar.
Menurut legenda, Rsi Markandeya sedang bermeditasi di Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah) ketika ia menerima wahyu melalui suara gaib untuk membangun tempat pemujaan di lereng gunung yang suci. Menerima panggilan spiritual ini, ia mengarahkan perjalanan menuju pulau Bali.
Pada saat itu, pulau Jawa dan Bali diyakini masih terhubung dalam satu daratan yang panjang yang disebut Nusa Dawa . Rsi Markandeya kemudian dan pengikutnya berusaha membelah hutan belantara di lereng Gunung Agung. Namun, upaya awal mereka gagal karena banyak pengikut yang meninggal akibat sakit atau serangan binatang buas.
Penanaman Panca Datu Titik Awal Berdirinya Pura
Kunci keberhasilan akhirnya tiba ketika Rsi Markandeya melaksanakan upacara ritual dan menanam “panca datu” lima elemen logam suci (emas, perak, tembaga, besi, perunggu) bersama sebuah batu permata sebagai simbol suaka dan perlindungan spiritual di tempat yang kini dikenal sebagai Basuki . Titik inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Pura Besakih.
Nama Besakih sendiri diyakini berasal dari kata Basuki (dalam bahasa Sanskerta berarti selamat), menandakan suatu tempat yang membawa keselamatan dan keseimbangan.
Perkembangan Pura Besakih dalam Sejarah Bali
Setelah Didirikan, Pura Besakih berkembang pesat sepanjang sejarah Bali. Pada masa kerajaan Bali, terutama setelah runtuhnya Majapahit dan berdirinya Kerajaan Gelgel, Besakih menjadi pura kawitan (utama) dan pusat ibadah negara .
Struktur kompleks ini terus dibangun oleh para raja dan pendeta Hindu Bali selama berabad-abad, menjadikannya tidak hanya tempat ibadah tetapi juga simbol identitas budaya Bali dan pusat kegiatan keagamaan besar .