Dibalik kemegahan detail kulit dan pewarnaan, ada “tulang punggung” yang menentukan segalanya. Tahun ini, STT Rama Wijaya tidak main-main dalam mempersiapkan struktur utama mereka untuk menyambut Caka 1948.

Lupakan kerangka yang ringkih. Proses pengelasan rangka besi menjadi titik awal bagaimana sebuah mahakarya diciptakan agar tetap stabil saat bermanuver di jalanan.

Mengapa STT Rama Wijaya Memilih Rangka Besi?

Penggunaan besi sebagai struktur utama oleh STT Rama Wijaya bukan tanpa alasan. Keamanan dan dinamika gerak menjadi prioritas utama:

  • Ketahanan Ekstrem: Memastikan Ogoh-ogoh tidak patah saat menerima beban berat dari bahan finishing.
  • Presisi Anatomi: Besi memungkinkan pemuda STT Rama Wijaya membentuk lekukan tubuh yang lebih ekstrem dan sulit dilakukan jika hanya menggunakan bambu.
  • Stabilitas Atraksi: Struktur las yang kuat menjamin Ogoh-ogoh tetap tegak meski diguncang hebat selama parade malam Pengerupukan.

Tahap Pengelasan: Seni Menyambung Nyawa

Proses ini dilakukan di Balai Banjar dengan tingkat ketelitian tinggi oleh anggota STT Rama Wijaya. Berikut tahapannya:

  1. Pemetaan Struktur: Mengikuti cetak biru (blueprint) karakter agar skala besi sesuai dengan desain awal.
  2. Welding & Reinforcement: Pengelasan titik-titik krusial seperti sendi dan tumpuan beban bawah untuk kekuatan maksimal.
  3. Integrasi Mekanik: Menyiapkan ruang bagi fitur gerak (jika ada) sebelum nantinya ditutup dengan anyaman bambu dan kertas.

“Struktur adalah harga mati. Tanpa rangka yang kuat, keindahan visual hanyalah sia-sia.” — Prinsip Kerja STT Rama Wijaya.

Menuju Caka 1948: Lebih dari Sekadar Seni

Apa yang dilakukan oleh STT Rama Wijaya tahun ini membuktikan bahwa kreativitas anak muda Bali terus berevolusi. Penggabungan teknik pengelasan modern dengan pakem tradisional menunjukkan bahwa tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan esensinya.


Leave a Reply