Emang meme dalam konten bagus dipakai? Ya, meme dalam konten itu bagus — tapi hanya kalau relevan dengan brand dan punya tujuan yang jelas. Meme bisa meningkatkan reach karena cepat dipahami, relatable, dan mudah dibagikan. Namun, jika hanya sekadar lucu tanpa arah, audiens mungkin tertawa tapi tidak mengingat siapa kamu.
Jadi, apakah meme wajib dipakai? Tidak. Tapi kalau digunakan dengan strategi yang tepat, meme bisa jadi senjata ampuh untuk menarik perhatian
Kenapa Meme Efektif dalam Konten?
Ada alasan kenapa banyak konten viral memakai meme:
- Cepat diproses otak – visual sederhana + humor ringan
- Relatable – sering menggambarkan situasi yang dialami banyak orang
- Gampang di-share – membuat reach dan engagement meningkat
Di era scroll cepat seperti sekarang, meme sering menjadi “pintu masuk” paling efektif untuk menghentikan audiens yang sedang scrolling.
Tapi… Kenapa Banyak Brand Gagal Pakai Meme?
Masalah paling sering terjadi adalah:
- Konten lucu, tapi brand-nya tidak diingat.
- Audiens datang hanya untuk hiburan, bukan untuk value.
Kalau setiap postingan hanya berisi meme:
- Audiens akan mengasosiasikan akunmu sebagai hiburan semata
- Bukan sebagai sumber informasi atau identitas brand
Akhirnya, engagement mungkin tinggi, tapi loyalitas audiens rendah.
Cara Pakai Meme yang Benar dalam Strategi Konten
1. Gunakan Meme sebagai Pembuka Topik
Meme bisa jadi hook yang kuat untuk:
- Membuka pembahasan
- Menyentil kebiasaan audiens
- Mengangkat masalah umum
Contohnya:
Meme → masalah relatable → solusi atau insight dari kamu.
2. Jadikan Meme sebagai “Pemancing”, Bukan Isi Utama
Ingat konsep ini:
Meme = pemancing
Value = penahan audiens
Audiens mungkin datang karena lucu, tapi mereka akan stay karena ada isi yang bermakna.
3. Pastikan Relevan dengan Brand dan Audiens
Sebelum pakai meme, tanya dulu:
- Apakah meme ini nyambung dengan niche konten?
- Apakah audiens target akan relate?
- Apakah ada pesan yang ingin disampaikan?
Kalau jawabannya tidak jelas, lebih baik skip.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Pakai Meme
- Ikut tren tanpa konteks
- Terlalu sering posting meme tanpa value
- Fokus lucu tapi lupa arah konten
Hasilnya? Konten ramai, tapi identitas brand jadi blur.