Mapeed merupakan tradisi berjalan bersama dalam barisan rapi menuju pura dengan membawa sarana upacara keagamaan. Tradisi ini bukan sekadar iring-iringan, melainkan simbol bakti, rasa syukur, serta kebersamaan umat Hindu di Bali dalam menjalankan swadharma (kewajiban) beragama. Mapeed juga mencerminkan konsep Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Mapeed memiliki makna mendalam yang mengakar pada budaya masyarakat Bali:

  • Wujud Syukur: Sebagai bentuk terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah dan kesejahteraan yang diberikan.
  • Simbol Kebersamaan: Mencerminkan kerukunan antarwarga banjar atau desa yang berjalan beriringan tanpa memandang status sosial.
  • Estetika dan Budaya: Menampilkan keindahan busana adat Bali dan keterampilan menyusun gebogan (sesajen buah dan bunga yang menjulang tinggi).

Berdasarkan pengamatan pada prosesi tradisional (seperti pada gambar), tradisi ini memiliki elemen visual yang khas:

  • Barisan Ibu-ibu: Biasanya diikuti oleh kaum perempuan yang menjunjung gebogan di atas kepala mereka dengan penuh keseimbangan.
  • Busana Adat: Peserta menggunakan kebaya, kamen (kain), dan selendang dengan warna yang serasi, sering kali didominasi warna putih sebagai simbol kesucian.
  • Iringan Gamelan: Prosesi sering kali diiringi oleh suara gamelan Balaganjur yang menambah semangat dan kesakralan suasana di sepanjang jalan.

Tradisi Mapeed adalah bukti nyata bahwa budaya Bali mampu menyatukan elemen spiritualitas dengan keindahan visual. Melalui langkah kaki yang seirama menuju pura, umat Hindu di Bali terus menjaga api tradisi dan keharmonisan hidup tetap menyala di tengah gempuran modernisasi.

Leave a Reply