Kalau kamu main ke Banjar di Bali jelang hari pengerupukan, pemandangannya bukan cuma bambu dan kertas semen, tapi juga asap mengepul dan aroma bumbu genap yang tajam. Inilah tradisi Mebat—momen masak besar ala pemuda Bali yang level serunya nggak ada lawan!

Bukan sekadar urusan perut, Mebat adalah bumbunya kebersamaan anak muda (STT) sebelum mereka pamer karya di jalanan.

1. Mebat: Ritual Wajib Pemuda Bali

Di sela-sela merakit rangka Ogoh-ogoh untuk Caka 1948, anak-anak muda ini bakal “pindah haluan” sejenak jadi chef dadakan. Menunya nggak main-main:

  • Sate Lilit & Sate Renteng: Yang satu dilit, yang satu ditusuk, keduanya dibakar pakai arang batok kelapa. Wanginya? Bisa kecium sampai Banjar sebelah!
  • Lawar Tradisional: Mengaduk bumbu genap, sayuran, dan daging jadi satu kesatuan yang perfect. Di sini kekompakan diuji, siapa yang bagian nyatnyat, siapa yang bagian ngaduk.

2. Jokes “Goreng Lele” dan Tawa yang Renyah

Yang bikin suasana cair itu bukan cuma es teh manis, tapi jokes receh yang keluar dari mulut para pemuda ini.

“Goreng lele pang sing lala lele!” (Goreng lele biar nggak loyo/lemas).

Kalimat-kalimat kayak gini yang bikin capek habis ngerjain Ogoh-ogoh jadi hilang. Meskipun menunya kadang sederhana seperti lele goreng garing, kalau makannya rame-rame di atas daun pisang, rasanya jadi bintang lima!

3. Esensi Kebersamaan Caka 1948

Tahun 2026 ini, tradisi Mebat tetap jadi jembatan buat anak muda Bali makin solid. Di sini nggak ada senior-junior, semua turun tangan. Ada yang bagian kipas sate sambil curhat, ada yang bagian ulek bumbu sambil ketawa.

Mebat mengajarkan bahwa gotong royong itu nggak harus kaku. Bisa dilakukan sambil bercanda, sambil dengerin musik, dan tentunya sambil menikmati hasil masakan sendiri yang bumbunya “berani” banget.

Leave a Reply