Apa cerita di balik ogoh-ogoh STT Dwiputra, Br. Tegal Agung?
Ogoh-ogoh yang dibuat oleh STT Dwiputra, Banjar Tegal Agung mengangkat tema filosofis tentang aliran kasih pertama dalam kelahiran manusia, sebuah refleksi mendalam yang bersumber dari ajaran Hindu Bali dan realitas kehidupan modern.
Ogoh-ogoh ini tidak sekadar menampilkan wujud menyeramkan, tetapi menjadi media visual untuk menyampaikan pesan spiritual, sosial, dan kemanusiaan.
Yeh Nyom’an sebagai inti cerita ogoh-ogoh
Cerita ogoh-ogoh ini berangkat dari konsep yeh nyom’an, yaitu air ketuban yang dalam ajaran Hindu Bali dipandang sebagai saudara niskala manusia saat lahir. Yeh nyom’an melambangkan kasih pertama yang melindungi, menghangatkan, dan menjadi ruang awal kehidupan sebelum manusia mengenal dunia luar.
Dalam ogoh-ogoh ini, yeh nyom’an menjadi simbol ikatan awal antara dunia sekala dan niskala, tempat rasa aman dan cinta tanpa syarat pertama kali dirasakan manusia.
Gamang, bayangan yang membawa kasih
Tokoh utama dalam ogoh-ogoh ini adalah Gamang, perwujudan yeh nyom’an yang merujuk pada konsep Kandapat Bhuta. Meski hadir sebagai sosok bayangan yang berasal dari kegelapan, Gamang tidak digambarkan sebagai kekuatan jahat.
Sebaliknya, Gamang membawa kasih yang lembut dan menenangkan. Ia hadir untuk menyentuh luka batin seorang anak perempuan yang tumbuh dalam kesepian akibat terputusnya kehadiran kasih orang tua di dunia modern.
Kritik sosial melalui simbol ogoh-ogoh
Melalui cerita ini, STT Dwiputra menyampaikan kritik sosial yang halus namun kuat. Banyak anak di masa kini tumbuh dengan orang tua yang sibuk, jarang hadir secara emosional, dan tanpa disadari meninggalkan ruang kosong di hati anak.
Ogoh-ogoh ini menggambarkan bahwa ketika kasih tidak didapatkan dari lingkungan terdekat, seorang anak tidak selalu memberontak, melainkan beradaptasi dan mencari kehangatan dari sumber lain, bahkan dari dunia niskala.
Purusa dan Pradana sebagai penjaga kehidupan
Di balik sosok Gamang, terdapat dua figur tua laki-laki dan perempuan yang melambangkan purusa dan pradana. Keduanya berperan sebagai penjaga ambang kelahiran dan asal kehidupan.
Dalam ogoh-ogoh ini, mereka tidak digambarkan sebagai ancaman, melainkan sebagai penjaga ruang purba tempat kasih pertama mengalir, menegaskan keseimbangan antara unsur maskulin dan feminin dalam penciptaan kehidupan.
Makna bayangan dan kegelapan
Bayangan dan kegelapan dalam ogoh-ogoh ini tidak dimaknai sebagai kehancuran. Justru, kegelapan digambarkan sebagai rahim kedua, ruang perlindungan tempat kasih tetap hidup ketika aliran cinta dari manusia terputus.
Pesan ini mengajak penonton untuk melihat sisi lain dari kegelapan, bahwa tidak semua yang gelap membawa keburukan, dan tidak semua yang terang menghadirkan kasih.
Pesan moral ogoh-ogoh STT Dwiputra
Melalui ogoh-ogoh ini, STT Dwiputra Br. Tegal Agung menyampaikan pesan mendalam bagi orang tua dan masyarakat:
- Kasih adalah kebutuhan dasar anak, bukan sekadar pelengkap.
- Anak tidak menunggu orang tua yang sibuk, mereka belajar beradaptasi.
- Ketika orang tua gagal menjadi sumber kasih, anak akan menemukan sumber lain.