Makanan di pesawat terasa berbeda karena tekanan udara dan kelembapan kabin yang lebih rendah membuat kemampuan indera perasa dan penciuman manusia menurun saat terbang.
Fenomena ini sering membuat penumpang merasa makanan di pesawat kurang gurih atau hambar dibandingkan saat dimakan di darat.
Apa yang Terjadi dengan Indera Perasa Saat Terbang?
Saat pesawat terbang di ketinggian jelajah sekitar 30.000–35.000 kaki, kabin pesawat memiliki:
- Tekanan udara lebih rendah
- Kelembapan udara yang sangat rendah
Kondisi ini menyebabkan indera perasa dan penciuman menurun hingga sekitar 20–30 persen, sehingga rasa asin dan manis menjadi kurang terasa.
Mengapa Maskapai Menyesuaikan Rasa Makanan?
Untuk mengatasi hal tersebut, maskapai penerbangan menyesuaikan resep makanan dengan:
- Menambah intensitas bumbu
- Memperkuat rasa umami
- Mengurangi ketergantungan pada rasa asin dan manis
Tujuannya agar makanan tetap terasa enak meskipun indera perasa penumpang sedang tidak maksimal.
Apakah Semua Penumpang Mengalami Hal yang Sama?
Sebagian besar penumpang merasakannya, terutama pada penerbangan jarak jauh. Namun, tingkat penurunan rasa bisa berbeda tergantung kondisi tubuh, kesehatan hidung, dan preferensi pribadi masing-masing penumpang.
Apakah Koki Maskapai Kurang Ahli?
Tidak. Justru sebaliknya.
Makanan pesawat dirancang oleh koki profesional dan ahli gizi, lalu diuji dalam simulasi kabin pesawat untuk memastikan rasanya tetap seimbang saat disajikan di udara.
Kesimpulan
Makanan di pesawat terasa berbeda bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena kondisi terbang memengaruhi indera perasa manusia. Penyesuaian bumbu oleh maskapai dilakukan agar pengalaman makan tetap nyaman selama penerbangan.