Dalam kisah Amertaning Sidhi Surya Candra, masyarakat Desa Sanur digambarkan menghadapi wabah penyakit besar pada abad ke-17. Wabah ini diyakini muncul akibat pengaruh Buta Gering beserta rencangannya. Kondisi tersebut membawa penderitaan dan mengganggu keseimbangan kehidupan masyarakat. Situasi inilah yang menjadi latar lahirnya sebuah prosesi spiritual yang sakral.

Dalam keadaan genting tersebut, Telek diperintahkan sebagai utusan Ida Bhatara Lelangit Griya Jero Gede Sanur. Tugas ini bukan sekadar perintah, melainkan amanah suci. Telek menggenggam Tombak Pusaka Hyang Poleng sebagai simbol kekuatan niskala. Dengan pusaka tersebut, ia melaksanakan panggilan suci untuk memohon pemulihan. Telek kemudian menuju kolam suci yang dipercaya sebagai sumber kesucian dan kekuatan nirmala.

Makna Panggilan Suci dalam Amertaning Sidhi Surya Candra

Panggilan suci yang dilakukan Telek memiliki makna spiritual yang mendalam. Prosesi ini melambangkan upaya penyelarasan kembali hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi. Kekuatan Jnana Ida Bhatara yang bersemayam dalam Pusaka Hyang Poleng diyakini membawa perubahan besar. Melalui kekuatan tersebut, air suci mengalami transformasi.

Air tersebut kemudian menjadi Tirtha Amertha Sidhi Surya Candra. Tirtha ini dipercaya mampu menuntaskan wabah yang melanda Desa Sanur. Air suci tersebut juga melambangkan kehidupan, penyucian, dan harapan baru. Dalam tradisi Bali, tirtha berperan sebagai media penghubung antara dunia sekala dan niskala. Oleh karena itu, kisah ini sarat dengan nilai filosofis dan spiritual.

Komitmen Berkarya Menjelang Nyepi Caka 1948

Melalui karya Amertaning Sidhi Surya Candra, ST. Satya Dharma Banjar Pekandelan Sanur Kaja menegaskan komitmennya dalam pelaksanaan Hari Raya Nyepi Caka 1948. Karya ini menjadi salah satu terobosan awal di tahun 2026. Tujuannya adalah tetap aktif berkarya dan berdedikasi pada pelestarian kesenian serta tradisi adat Bali.

Karya ini dihadirkan sebagai media refleksi spiritual menjelang Nyepi. Nilai-nilai leluhur disampaikan melalui narasi dan ekspresi seni. Dengan demikian, warisan budaya Bali dapat terus hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Segera hadir, karya ST. Satya Dharma Banjar Pekandelan Sanur Kaja pada Nyepi Caka 1948.

Leave a Reply