Apa makna Ogoh-Ogoh Cupak Gerantang karya ST Binnayaka Dharma?
Ogoh-ogoh Cupak Gerantang karya Sekaa Teruna Binnayaka Dharma, Banjar Ujung Kesiman, disimbolkan sebagai air, unsur alam yang memiliki dua sifat utama: tenang dan bergejolak. Filosofi ini diwujudkan melalui karakter Cupak dan Gerantang yang merepresentasikan dua sisi kehidupan manusia.
Siapa Cupak dan Gerantang dalam cerita rakyat Bali?
Cupak dan Gerantang adalah tokoh legendaris dalam cerita rakyat Bali:
- Cupak melambangkan sifat negatif manusia seperti keserakahan, kemalasan, dan kelicikan.
- Gerantang melambangkan sifat positif seperti kejujuran, ketulusan, dan kebijaksanaan.
Keduanya merupakan simbol keseimbangan hidup, di mana baik dan buruk selalu berdampingan.
Mengapa Cupak dan Gerantang disimbolkan sebagai air?
Sekaa Teruna Binnayaka Dharma memaknai karakter Cupak dan Gerantang sebagai air karena:
- Air yang tenang melambangkan kebijaksanaan, kesabaran, dan kejernihan hati (Gerantang).
- Air yang bergejolak melambangkan amarah, nafsu, dan ketamakan yang tak terkendali (Cupak).
Air menjadi unsur yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: memberi kehidupan, namun juga bisa membawa kehancuran bila tidak dijaga keseimbangannya.
Nilai filosofi yang ingin disampaikan
Melalui Ogoh-ogoh Cupak Gerantang, pesan utama yang ingin disampaikan adalah:
- Manusia harus mampu mengendalikan gejolak batin, sebagaimana air harus dialirkan dengan bijak.
- Keseimbangan antara sifat baik dan buruk adalah kunci keharmonisan hidup.
- Ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni, tetapi media refleksi diri menjelang Hari Raya Nyepi.
Peran Sekaa Teruna Binnayaka Dharma
Sekaa Teruna Binnayaka Dharma, Banjar Ujung Kesiman, menunjukkan kreativitas dan kedalaman filosofi dalam karya ogoh-ogoh ini. Proses penciptaan tidak hanya menekankan visual artistik, tetapi juga nilai budaya, sastra Bali, dan pesan moral yang relevan dengan kehidupan modern.
Relevansi dengan tradisi Nyepi
Dalam konteks Pengerupukan, ogoh-ogoh Cupak Gerantang menjadi simbol Bhuta Kala yang harus disadari, dikendalikan, dan dinetralisir. Seperti air, energi negatif tidak dihilangkan, tetapi diarahkan agar kembali seimbang dengan alam dan manusia.
Penutup
Ogoh-ogoh Cupak Gerantang karya Sekaa Teruna Binnayaka Dharma, BR. Ujung Kesiman adalah perwujudan filosofi air: tenang namun berpotensi bergejolak. Karya ini mengajak masyarakat untuk merenung, mengendalikan diri, dan menjaga keseimbangan hidup demi keharmonisan jagat raya.