Kreator konten tentu ingin kontennya tidak hanya ramai hari ini, tapi juga terus relevan dan bermanfaat dalam jangka panjang. Di antara berbagai jenis konten, konten edukasi ternyata memiliki daya tahan yang lebih tinggi dibanding konten hiburan. Mengapa demikian?

Alasan utamanya sederhana: audiens datang ke konten edukasi bukan sekadar untuk menonton, melainkan untuk mendapatkan solusi, pengetahuan, atau jawaban atas masalah yang mereka hadapi. Konten hiburan mungkin viral hari ini, tetapi besok bisa terlupakan. Sementara konten edukasi cenderung disimpan, dibuka kembali, bahkan dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Konten edukasi menjadi “aset digital” yang terus bekerja untuk Anda. Ia bisa ditemukan kembali melalui pencarian, menjadi referensi jangka panjang, dan membangun otoritas Anda di bidang yang Anda tekuni.

Tapi, bagaimana cara membuat konten edukasi yang benar-benar awet dan bermanfaat?

  1. Fokus pada Kejelasan dan Utilitas
    Pastikan konten Anda menjawab pertanyaan spesifik audiens. Berikan penjelasan yang runut, contoh yang mudah dipahami, dan takeaways yang bisa langsung diaplikasikan.
  2. Mudah Dipahami dan Diakses
    Gunakan bahasa yang sederhana, visual yang mendukung, dan struktur yang teratur. Jika berupa video, sertakan teks atau subtitle. Jika tulisan, gunakan heading, poin-poin, dan paragraf yang singkat.
  3. Optimasi untuk Pencarian
    Riset kata kunci yang relevan dengan topik edukasi Anda. Masukkan kata kunci utama di judul, meta description, dan secara alami di dalam konten. Ini akan membantu konten Anda ditemukan di mesin pencari dalam jangka panjang.
  4. Didesain untuk Dibagikan
    Buat konten yang mudah dibagikan dengan menyertakan kutipan penting, infografis, atau rangkuman singkat. Ajakan untuk menyimpan atau membagikan ke yang membutuhkan juga bisa meningkatkan engagement.

Konten edukasi tidak harus rumit. Yang penting jelas, berguna, dan gampang dipahami. Dengan pendekatan yang tepat, konten edukasi Anda bisa terus bekerja dan mendatangkan nilai bahkan bertahun-tahun ke depan.

Jadi, siap beralih atau memperbanyak konten edukasi yang tahan lama? Bagikan tips ini ke sesama kreator!

Leave a Reply