Dalam membuat sebuah website, hal pertama yang menjadi kunci utama sebuah kesuksesan website adalah kesederhanaan. Kesederhanaan sebuah website seperti halnya google, tidak hanya bisa menutupi segala kerumitan yang ada didalamnya, juga akan sangat berdampak pada response times halaman website tersebut.
Dengan kesederhanaan juga bisa mengurangi resource sehingga website dapat berjalan lebih cepat karena ringan resource. Nah permasalahan yang timbul saat ini adalah bagaimana website-website yang sudah terlanjur memiliki tampilan, warna-warna, maupun file-file flash yang bejibun seperti halnya website G-Land yang menggunakan flash hampir 50% agar dapat berjalan lebih cepat ketika diakses?
Berikut ada beberapa tips yang bisa dijadikan acuan untuk meningkatkan Respone Times Halaman website kita.
1. Tambahkan Expires Header
2. Jangan menggunakan CSS Expresion
3. Meletakkan CSS pada halaman atas
4. Meletakkan JS pada halaman bawah sebelum tag </body>
5. Selalu membuat script CSS atau JS terpish dari halaman
6. Gunakan JSMIN (Javascript Minifier)
7. Hindari penggunaan Redirect
8. Hapus beberapa script yang duplicate.
Source : Jacob Gube
Banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari software macromedia flash, salah satunya kita dapat membuat mp3 player yang bisa kita pasang di website kita sehingga website terlihat lebih cool.
Mp3 Player dalam flash ini terdiri dari 3 file, pertama playernya (kita buat dari flash), kedua file xml, ketiga beberapa file music yang berekstensi *.mp3.

Pertama kita buat Playernya:
1.Pada layer 1, kita buat dahulu model mp3 player kita, yang didalamnya terdiri dari:
2. Pada layer 2 kita beri script berikut:
loadMusic = function(lagu){
if(lagu != undefined){
displayBar.bar._width = 0;
comment.text = ‘Meload music’;
loadLagu = true;
suara.loadSound(lagu, true);
suara.start();
} else {
comment.text = ‘silahkan memilih lagu yang ingin anda mainkan’;
}
}
// callback function saat musik durasinya habis
musicEnd = function(){
loadLagu = false;
var songNumber = PlayList.getSelectedIndex();
songNumber++;
// option : auto play all : jika masih ada lagu dibawahnya
if(songNumber <>
comment.text = ‘next ke lagu berikutnya…(‘+PlayList.getSelectedIndex()+’)';
// setting agar seleksi lagu otomatis loncat ke lagu berikutnya di list
PlayList.setSelectedIndex(songNumber);
// mulai load lagu yg dipilih
loadMusic(loadMusic(PlayList.getSelectedItem().data));
trace(“next ke lagu berikutnya…”);
// option : rewind : jika lagu yg diputar merupakan lagu terakhir
} else {
comment.text = ‘next ke lagu berikutnya…(‘+PlayList.getSelectedIndex()+’)';
// set ke lagu berikutnya
PlayList.setSelectedIndex(0);
// load music kembali ke awal
loadMusic(loadMusic(PlayList.getSelectedItem().data));
trace(“Kembali ke music awal…”);
}
}
// cek durasi dan posisi lagu
displayBar.onEnterFrame = function() {
if(loadLagu){
loaded = suara.getBytesLoaded()/suara.getBytesTotal();
var soundPlayed = suara.position/suara.duration;
var soundLoaded = soundPlayed*loaded;
this.bar._width = soundLoaded*300;
if(loaded > 0){
comment.text = ‘Mulai mainkan…’;
}
suara.onSoundComplete = musicEnd;
}
}
// Play
PlayButton.onRelease = function(){
loadMusic(PlayList.getSelectedItem().data);
trace(“Mainkan music yang dipilih”);
}
// Pause
PauseButton.onRelease = function() {
if(!pause){
pause = true;
suara.stop();
trace(“Pause”);
} else {
var i = ((_root.displayBar.bar._width/300)*(suara.duration/loaded))/1000; // 1000 –> per milli detik atau 0.001 detik
suara.start(i,0);
pause = false;
trace(“Re-Play music setelah di Pause”);
}
}
// Stop
StopButton.onRelease = function() {
loadLagu = false;
pause = false;
suara.stop();
_root.displayBar.bar._width = 0;
trace(“Stop”);
};
// Load Play List dengan menggunakan load XML
loadPlayListXML = function(xmlTarget){
myXML = new XML();
myXML.ignoreWhite = true;
myXML.onLoad = function(sucess) {
if (sucess) {
onLoadXMLSuccess(myXML);
}
}
myXML.load(xmlTarget);
}
onLoadXMLSuccess = function(xmlDoc){
for (var a=0 ; a <>
judul = xmlDoc.firstChild.childNodes[a].attributes.judul;
filename = id = xmlDoc.firstChild.childNodes[a].childNodes[0].firstChild.nodeValue;
PlayList.addItem(judul,filename);
}
jumlahLagu = PlayList.getLength();
}
stop();
// initial
suara = new Sound();
pause = false;
totalLagu = null;
jumlahLagu = false;
loadPlayListXML(“playlist.xml”);
3. Membuat Playlist.xml
<?xml version=’1.0′ encoding=’utf-8′?>
<playlist>
<judul=”Indonesia Raya”>
<filename=”indonesia-raya.mp3″ />
</judul>
<judul=”Komunitas Music”>
<filename=”komunitaskami.mp3″ />
</judul>
</playlist>
WP Hack ? Judulnya serem ya… konon itu cuma teknik biar orang tertarik baca artikel kita… he he he
Isinya cuma tutorial sederhana bikin sebuah halaman terpisah di wordpress misalnya http://www.komunitaskami.com/contact.php
Isi halaman contact.php ini rencananya bebas, bisa sekedar halaman HTML biasa atau mungkin PHP. Awalnya kami pikir agak susah membuat halaman seperti ini karena didalam theme wordpress, tidak diperkenankan melakukan akses langsung file ini.
Caranya simple, tambahkan baris kode – kode php ini di baris pertama contact.php
<?php
define(‘WP_USE_THEMES’, false);
require(‘./wp-blog-header.php’);
?>
Lalu selanjutnya silahkan ditambahkan kode – kode HTML seperti biasa atau mungkin mau ditambahkan kode – kode php.
Supaya tampilan tampak cantik dan seperti theme yang dipakai, anda disarankan untuk meng-copy semua isi dari file header.php index.php sidebar.php dan footer.php setelah kode php diatas.
bagi yang agak malas mengcopy isi file – file diatas, anda bisa juga menyertakan header.php sidebar.php dan footer.php dengan kode sbb :
<?php include (TEMPLATEPATH . ‘/header.php’); ?>
<?php include (TEMPLATEPATH . ‘/sidebar.php’); ?>
<?php include (TEMPLATEPATH . ‘/footer.php’); ?>
lalu upload file itu di dalam folder root ( public_html ). selanjutnya anda sudah bisa mengakses file tsb dari url http://www.komunitaskami.com/contact.php
semoga bermanfaat.
Microsoft, Dell, Ford, BCA, G-Land surf camp, adalah secuil kisah yang patut kita contoh.
1. Orang bodoh sulit mendapatkan pekerjaan, dan akhirnya dia mencoba berbisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil Boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
2. Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang ga pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk menyelesaikan keperluan orang bodoh.
3. Orang pintar belajar dengan giat dan tekun untuk mendapatkan ijazah dan selanjutnya mendapatkan pekerjaan. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
4. Orang bodoh gak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.
5. Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH). Oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
6. Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada diatas.
7. Orang bodoh berpikir pendek, untuk memutuskan sesuatu dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.
8. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar DEMO, walhasil orang-orang pintar “meratap-ratap” kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
9. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
10. Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
11. Bill Gates (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Bobby Radiasa (G-Land surf camp), Liem Siu Liong (BCA group) adalah orang-orang bodoh yang kaya (tidak pernah dapat S1). Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.
So…., pikir-pikir lagi dech :
- Jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama ga sadar kalo dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
- Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
- Kata kunci nya adalah “resiko” dan “berusaha”, karena orang bodoh berpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil. Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut, dan mengabdi pada orang bodoh.
Source : phidut